Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label senja

Ini Harimu, Ma!

Ma, Dua hari lalu muncul wajahmu dalam dengkurku Memang agak berlebihan rupanya sebab aku tiada dengkur tiap tidur kecuali Ada lelah yang kumadu Ini hari jiwamu diserukan banyak orang Aku ingat betul tiga tahun lalu "Selamat hari guru, Nang! Semoga ngajarnya lancar. Anak bangsa kau didik benar." Tiga tahun lalu ini dialog kau kirim Padaku dalam ruang guru sebelum kuberlalu Masuk melewati lorong kelas, anak-anak berlarian, dan debu berhamburan Tiga tahun lalu aku bagai kau Seorang bahaduri yang mengawasi tiap curang anak manusia dalam mata pelajaran Aku ingat betul bagaimana suaramu lantang padat yakin Semua anak mengangguk mafhum tanpa ada tanya Seperti itu rupaku merupamu, Ma Setahun kudian, aku melupa hari ini Cuma kukirim pesan padamu yang sibuk mengguru Meski kau tak pernah suka untuk menggurui Tapi begitulah hidup, 'kan, Ma? Tak ingin berkata, tapi terpaksa bersuara Meski kata-kata tak lagi harus dipercaya Sebab dusta merupa begitu hebatnya ...

MEMELUKMU PAGI TADI

Blora. Selasa, 24 Maret 2015 - 15:55 untuk: Mama Betapa cinta, Ma, ada kau dalam mimpiku Melepas rindu yang kutimbun delapan purnama dalam dekapmu Kamu nyata, Ma? Sayang, alarm terlalu pekik Terjaga aku oleh cekik ; merinduimu yang tiada ternyata begitu pelik Ma, kenapa kau datang di saat aku lelap? Apakah surga mengizinkan hamba-Nya bepergian tanpa sebab? Kerna dibiarkannya mataku nyalang dengan sembab Dan bayangmu sejenak lantas lenyap ; begitu hangat, begitu lekat, begitu dekat Yogyakarta, 10 Oktober 2016 Andrall Intrakta | 10:17

Surat Perpisahan yang Menyisakan Ampas Rindu Tanpa Ada Temu

Untuk wanita yang sebenarnya kukagumi, tapi malu untuk kuakui: Shofi Awanis Musim hujan turun di Magelang. Begitu jelas kau mengawali kenangan. Ya, kenangan. Kerna di awal kau tulis sebuah prosa atas namaku di laman harian daringmu, aku tak pernah mengira itu akan menjadi sebaris kenangan. Ternyata, gesek dawai pada biolamu menyadarkanku; betapa perpisahan tinggal menghitung hari. Sebelumnya, biarkan aku menjelaskan. Aku tak sepuitis yang kau kira. Aku tak serapi tulisan kupunya. Aku tak selayak kau kagumi―meski kau malas untuk mengakui. Malam ini, aku terenyak begitu melihat posting dua buah rekam gambar yang akan membantu membuatmu ingat hari ini di musim dingin New York nanti. Alunan nada dan suara sembermu yang sebenarnya cukup baik itu mengatakan padaku arti sebuah perpisahan yang berulang. Ya, berulang. Tapi kurasa tak perlu kutulis kembali dua perpisahan yang kualami sebelumnya di surat ini. Sementara kau sudah tahu betul bagaimana kesepianku menghadapi dua ai...

Sekotak Puisi di Ini Kota

Segelas puisi hangat yang tawa bagimu Menyeberang ceria, menutup duka laju Denting gerimis melebur suasana, manis Satu kali peluk merajut dalam lengan kekarku Dua kali lekuk senyum sesat untukku Ya, musim hujan yang terlalu cepat Barangkali kemarau kurang tepat Untuk pulang tapi rindu dan benci seperti lekat O, Rosario yang malang! Semuanya mengagung, menyemai sepuh usia Di pukul berapa pelayan membawakan gulagula? Duh, terlalu pekat Piccolo Latte-ku Tentu, tiada pahit lelakumu Magelang, 7 Mei 2016 @ andindc

Mama, Biarkan Anak Lelakimu Sesekali Mengkhawatirkanmu

Hai, Ma. Sepekan bagai lorong panjang nan gelap Kau tahu sejak dulu, bahwa ketakutan Pendar berkat air mata yang tulus Sebab cinta yang begitu kuat Sebab rindu yang terlalu berat Sebab, di labirin tentu sedia Lapang jalan untuk melangkah Hai, Ma. Setepat ini hari, Izinkanlah aku mengkhawatirkanmu Meski hanya doa dalam rindu yang melaju Biarkanlah dokter dan suster merawatmu, Ma Juga, abaikanlah cibiran para tetangga Toh, mereka cuma tinggal dalam kerangjang belanja Bukan mereka yang turut berdoa, ikut bekerja Hai, Ma. Biarkan aku kali ini Mengkhawatirkanmu lewat doa Lalu akan kukirim ke labuhan bahasa cintamu yang sentosa! Jogja, 18 Februari 2016 @ andindc | 21:43

Hai, Pa!

Tiada harapku selain menjadikanmu sejarak pandangku dalam nyata . Bahagialah , semesta bersamamu .

Telah Kusematkan

Telah kusematkan sempat pada merdu dadamu, Kekasih Pada tetes embun pertama di awal kala, temu dan tawa Telah kusematkan tempat untuk rupa kasih yang nyata Untuk tidur siang yang panjang agar bebas kita menafsir kata Telah kusematkan tepat dalam baris puisimu, Kekasih Dalam jeda hela napasmu apa makna kita berduaan Telah kusempatkan silau tuju harimu di muka dangau Tempat di mana kusemat Rindu di hati yang tepat UK, 16 Oktober 2015 06:12

Musim I

Untuk: A. W. (Sudah berlabuh berapa rembulan dalam dompetmu?) Malam begitu larut hingga belasan perahu tanpa cadik menenggelamkan lautan Angin kesiur diterpa resahmu yang menjadi Sekian lamanya tanya pada kepalamu berendeng memanggil jawab ; kapan bapak pulang Pagi begitu buta tak duga Resahmu yang gemulai menjelma gamang yang aduhai Kian mendamba keragu-raguan sebab di meja makan tudung saji mengangkangi udara dan meja urung riuh sedia masa Siang begitu sama dengan sebelumnya Tiada kupu-kupu gajah melesak di antara paha Atau sekadar melenggang mengitari ingatan Sebab di sana terperam tanya yang sama ; kapan bapak pulang Sore begitu jingga hingga matari Menopang setiap jiwa yang kembara Kudian kau kenang persoalan Buah jatuh dekat dengan pohonnya maka jutaan tanyamu yang itu itu saja terjawab sudah ; ia ajarkan untuk melupakan kesetiaan UK, 14 September 2014 3:45

Mengingat Kau, Kekasih

Mengingat kau, Kekasih, seperti mengulum jarum waktu detik demi detik. Menelantarkan kesepian pada pinggiran menit yang tak terkira datangnya. Menelan poros jam yang berdetak serupa semu wajahmu, tetapi hayalan tetap hayalan, dan kesepian melanda seluruh permukaan waktu. Melupakan kau, Kekasih, bagai menanak beras dalam benci. Sedang nasi tak perlu lagi dikukus, sebab ketiadaanmu olehku telah terdekus dengan sedikit air mata yang barangkali bagi sebagian orang ialah berdekah melihat lelakuku. Barangkali pula, bagi sebagian orang, mengingat pelupaan tentang kekasihnya adalah bentuk kekeliruan yang acap terjadi dan mereka sadari. Tetapi bagiku, Kekasih, cinta tak dapat ditimang dengan kata dan kata tak makna tanpa cinta. UK, 29 Juli 2014

WANITA YANG BERJAGA DI AMBANG JENDELA

Acap ia cemas di pertalian waktu Senja buram bagai enggan beranjak Kecipak kenangan di pelataran rumah sehabis hujan Tak surut buai angin mengering Wanita itu kembali dalam cemas “Kelepak nasib mana yang kau cermati? Burung-burung kembali pada sarang Sadar pula ia pada anak istri Barangkali orang-orang perlu menirunya” Wanita itu kembali dalam cemas Bibirnya bergetar di ambang fajar Belum kembang-kembang yang mekar Belum hangus sampah terbakar Belum lagi yang lain yang lain “Ketiplak murung duniawi kau rindui Aduh, kau wanita Tak laik menaruh duka di dadamu Ingsutkan onak belukar darinya” Wanita itu kembali dalam cemas Di dinding kesunyian, ia Tulis masa yang setia memamah kecewa Hingga senja, hingga fajar, hingga gemetar Ia robek alit pada sisi wanitanya, hingga burai UK, 14 Juni 2014 @andindc | 06:05

WANITA YANG MELUPAKAN INGATAN

Separuh malam, ia habiskan waktu yang sebentar meleburkan cinta Sementara iba menggayut di kerongkongan Belum habis masa memakan usia, enyah segala rupa kenangan di pijar sekitar lilin Wanita itu... Barangkali kesedihan ialah laik ia tinggal, maka seseorang hadir di tengah kesepian nyata Ia coba lebur angkara, aksara berbicara menafsir tampak mata Ia tak kuasa berdusta Seseorang mengemas hati mereka dalam benian Ia lupa, di mana wanita itu menaruh rasa sumber @andindc UK, 2014

MANALAGI

Masih kau sukar membakar jarang yang menyandar? Butuh kau semacam kertas tanpa tinta? Agar api segera kobar dan membuat silau Kadang pemantik tiada bara di akhir Kerna bosan, sebab ibunya tak kunjung sadar Sebab ayah pun tak menyilaui anaknya Masihkah kau sukar meredam padam kadang yang mendamba? Seribu tahun datang seratus andai terabai Maka, andaiandai tiada tanah basah atawa air kering di samudra bahasa Jangan salahkan pensil tanpa kertas ; tercoretlah dinding rumah ibu sumber: republika.co.id UK, 28 Mei 2014 | 00:26

Pulanglah, Wanitaku, Temui Berai Air Mata

1 Wanitaku Ada masa di mana rencana ke depan bukanlah urusan remeh temeh. Bukanlah pula aku tak memikirkannya. Tapi keharusan untuk menanggalkannya di rak buku juga tak bisa kuabaikan. Kita telah mafhum bagaimana cinta yang bernas menggigilkan ilusi. Intuisi getir mendewa di pangkal lidah, menyeka kerongkongan, menyekat syarafsyaraf, dan meringankan tugas pembuluh darah, agar sirkulasi melaju lamban. Itu berarti, kesunyian mendamba di ujung purnama. 2 Wanitaku Perihal kita tunduk pada perut gunung, ialah bukan kerna kita kehabisan stok air minum atau kram yang membikin kita keram di tempat. Tidak, jangan salah. Kita menapak pada batu yang sama dan benar. Tujuan mendaki dan mencapai puncak, mencium bau keabadian cinta, dan sekadar mengambil potret bersamanya, tentu hadir di awal petualangan kita. Sebelum barangbarang tersempalai di lantai dan kita jejalkan dalam tas, tentu, tujuan kita sama setelah sampai puncak; turun dengan bahagia. 3 Wanitaku Jangan lagi kau sesalkan malam ...

SURAT UNTUK MANTAN

Telah kuterima suratmu minggu lalu, ketika Pak Peno datang ke gubukku dengan sepeda bututnya sore itu. Tak kuduga kau menulis surat lagi untukku setelah sekian tahun. Bukankah kau pernah berkata padaku selepas hilangnya senja dari matamu, kau akan gantung pena? Sebagai perempuan yang kukenal penepat janji, kupertanyakan kata-katamu, Lis! Perkataanmu kala itu kuamini. Aku pun ingin gantung pena. Tapi, lantas bagaimana kalau aku menepatinya, sementara suratmu telah sampai di meja makanku? Apakah harus kutanak bersama dengan beras-beras yang berhasil kudapat dari panen kecilku? Atau harus kulipat ia menjadi seperti kotak sebagai asbak abu rokokku yang kerap mengganggu tidur malammu di kasur kamarku? Sungguh sia-sia penantianku selama ini bila itu terjadi. Tidak, itu tak akan kubiarkan terjadi. Aku lelaki, dan kali ini aku akan mengingkari janjiku. Baru kali ini aku mengingkari janjiku, bukan? Rupanya, kita memang telah sepakat untuk mengingkarinya. Kau tahu, selama ini aku tak ...

KEPADA RUMAH KEDUAKU

Ini bukan surat seperti yang Bang Step tulis di blog-nya. Sebenarnya tulisan ini serupa dengan Curhat Alogo, tapi kali ini, sama sekali tidak membahas naskah. Ya, nyrempet sedikitlah, ya. Hehe. Usia curhatan ini ada di computer jinjingku hampir sebulan. Tapi aku malu menaruhnya di blog. Kukira tak laik untuk kupamerkan pada khalayak. Tapi, akhir-akhir ini, orang-orang mengajariku untuk jujur walau berbuah buruk―meski sebenarnya aku sering melakukan kejujuran ini. Kepada Bang Step, tenang, Bang, ini curhat tak akan melebihi surat cinta-mu yang katamu paling panjang itu. Hehe Ya, curhatanku ini masih seputar keluarga keduaku. Kejadian bermula ketika MPA jurusan di aula S. Ruang yang sempit, sesak oleh maba, dan kecanggungan antarmaba kerna belum saling kenal. Pembawa acara waktu itu mempersilakan semua organisasi yang ada di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dari pecinta alam, komunitas penulisan kreatif, hingga terakhir―yang kuperhatikan―ialah Bengkel Sastra. Segera fokusk...

AKU ALINA

Aku Alina 1 Alina yang selalu kupuja Kuagungkan kau lebih dari gembur tanah Kujauhkan kau dari retak kemarau Kuatapi kau dari terik nelangsa Tapi aku luput memayungimu dari hujan kenanganku ; hingga kau hanyut atas curiga dan kecewa Aku Alina 2 Ingat betul aku tatkala kau pinta rembulan hingga berabad kita pada atap yang sama. Tak pula lupa, damba teduh asmara dan rindang gejolak perlawanan batinmu atas segala nama wanita dalam dompetku, sajakku. Sajakku tak lagi imaji, berbicara andai, perihal jikalau. Seperti bulan terpeluk si bongkok atawa hujan yang tiada padahal banjir di depan mata setinggi kaki. Tidak. Melainkan kini, sajak lahir kerna matamu yang selalu basah dan urung kering. Kerna hidup bukan sebatas pilih-memilih. Ada dipilih, ada pula terpilih, selain itu tiada. Maka, kau adalah yang kedua kata kusebut di atas. Aku Alina 3 Wanitaku padat curiga dalam tubuh Buah mengkudu disebut duku Belum lagi asma ibuku dikira masa laluku Di meja sa...

Sebelas Purnama Lewat Depan Rumahku

Malam perpisahan larut tanpa belaian Segera pagi, senyum terbit dari bibir tipismu merekah Seolah kau mengingatkan ; sarapan itu penting! Atau sekurang-kurangnya ; jangan lupa, matikan kipas angina di kamarmu, ya! Selalu halaman kau ulas lembut tanpa luput Jemari yang gerimis kerna bila petang menjelang Jumpa menjadi di layar ponsel atau esok harap masih aada matari Malam perpisahan larut tanpa belaian Segera pagi, senyum terbit dari bibir tipismu merekah Masih setia kau mengetuk kamarku Segelas susu sepotong rindu bertabur cinta rebah di pelukku Ya, pagi yang gemilang, sebab Sebelas purnama lewat depan rumahku Rumah-tangga kita Februari 2014

SEBELUMNYA

                                           Untuk: Adi Widayat Persoalan berlanjut seiring hijau lampu melaju Aku yang gemetar dalam mencoba mengingat Bahasa apa yang ia kerahkan sebagai armada Menuju benua air mata, kerna cinta Ia pula menyebut cinta bagai rajawali perkasa Dulu kini telah bukan sebagai kesakitan Aku melibas lampu jalanan lampu taman dan lampu lainnya Lampu kamar lampu ruang makan Lampu diskotik lampu masa depan Tidak ada satupun yang padam Di meja makan Ibu bercerita Tentang keadaan politik di medan zaman Perekonomian yang sulit terus melilit Kesehatan yang tak kunjung dewasa Dan air mata menggenangi belasan tahun tanpa tatapan kami Duhai, jendral dengan jutaan armada bahasa Berita apa yang kaubacakan sore nanti? Adakah mengenai tata kota ekonomi politik kesehatan pendidikan? Mana yang lebih penting Sekara...