Ini bukan surat seperti yang Bang Step tulis di blog-nya. Sebenarnya tulisan ini serupa dengan Curhat Alogo, tapi kali ini, sama sekali tidak membahas naskah. Ya, nyrempet sedikitlah, ya. Hehe. Usia curhatan ini ada di computer jinjingku hampir sebulan. Tapi aku malu menaruhnya di blog. Kukira tak laik untuk kupamerkan pada khalayak. Tapi, akhir-akhir ini, orang-orang mengajariku untuk jujur walau berbuah buruk―meski sebenarnya aku sering melakukan kejujuran ini. Kepada Bang Step, tenang, Bang, ini curhat tak akan melebihi surat cinta-mu yang katamu paling panjang itu. Hehe Ya, curhatanku ini masih seputar keluarga keduaku. Kejadian bermula ketika MPA jurusan di aula S. Ruang yang sempit, sesak oleh maba, dan kecanggungan antarmaba kerna belum saling kenal. Pembawa acara waktu itu mempersilakan semua organisasi yang ada di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dari pecinta alam, komunitas penulisan kreatif, hingga terakhir―yang kuperhatikan―ialah Bengkel Sastra. Segera fokusk...