Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label hutan

Kepulangan Keempat

Kembali kusapa kau, Kekasih Sebab apriori bukan jalan lurus yang tertali dengan kerendahan hati Markah buatanmu telah tiada Sebab benci bukan senjata Melainkan pembuangan akhir masa cinta dalam laci meja belajar Kepulangan ini kusimpulkan sebagai kenangan yang belum pernah kita temui Bangku taman benderang dan kaki-kaki mungil para papa menyeberangi malam Dan kita tetap urung menemui janji Kusimpulkan kembali, kita Terjanggal oleh kemalu-maluan dan rasa bersalah berbaur air mata, mata air Kepulangan ini kutasbihkan sebagaimana barangkali doa yang teralir pada kepercayaan bahwasanya hendak kucipta kenangan Agar tak ada kabar angin bawa dari pucuk cibir melasak dalam rok Pulanglah, Pa. Ngawen, 1 Agustus 2014 @andindc

Sepercik Air Telaga

Untuk sang terkasih, @amalnisfi Ingin kukuaskan tinta ini pada sebidang kanvasmu yang masih putih. Tidak ada setitik pun warna yang mengotorinya. Kanvasmu putih bersih. Kutanya, “Baru?” Kau mengangguk iya. Pada yang nyata itu, kuraba permukaan kanvasmu yang halus. Seperti yang kurasa, tak sedikit pun seratnya menusuk dan berantakan. Seakan rapi berbaris dalam sulaman seorang profesional. Hingga detil kuraba, kugesek, kubelai dengan tulunjuk, dengan jemari, dan terakhir, dengan pipiku. Lalu...Wow! Figura kanvasmu cantik. Terbuat dari lipatan kayu berplitur bersih. Tanpa cacat dan salah, kuraba pula pinggiran kanvasmu. Coklat muda dengan kombinasi warna hitam pada garis-garisnya, mempercantik kanvasmu yang kian jelita bagiku. Aku pikir, ini pasti sangat mahal, atau bahkan kau—si empunya—tak akan menjual karena kanvas ini tak ternilai harganya. Dan kuulang tanyaku tadi, “Baru beli?” Kau tatap aku dengan jawaban yang membingungkan. Kau menggeleng. Rupanya kau membuatnya sendiri! Sunggu...

Gadis Itu

"Hei, gadis berambut hitam pekat! Tengoklah sejenak kemari!" Namun aku belum bisa memberikan seperti apa yang sekarang kau miliki apalagi untuk masa depan. Berdiri sejajar denganmu pun aku tak mampu. Kau memiliki segalanya. Sementara aku hanya pria dengan sebatang rokok di sela jemarinya. Celana robek yang setiap tiga bahkan empat bulan sekali kucuci, dan kaos oblong dengan gambar ganja, serta rambut gimbal yang selalu kugerai tanpa pernah tersentuh sisir. Tanyakan itu pada semua orang di cafe ini, pasti mereka tahu siapa orangnya. Ya, itu aku. "Hei, kau gadis di meja nomor 14! Palingkanlah sejenak wajahmu untukku!" Sesekali kau menoleh, meski dalam hitungan detik. Wajahmu teduh. Aku tiada daya menyapa, aku hanya bisa menikmati keindahan bidadari dari jauh. Sudah cukup bagiku menatap asri matamu dari sela helai rambut gimbalku yang menutupi wajahku ini. Gerah rasanya. Ingin kupangkas rambutku agar bisa dengan leluasa mata ini menatap wajahmu yang segar. Ini a...

Hanya Embun

Di ujung lorong itu kita bersua Hanya di ujung Sekilat memang Seiris pasti Tiada dapat luka Karena luka tak teriris, bahkan kikis Semacam pengantar tidur atau tiada bangun menemui di kala fajar Di ujung lorong itu kita bersua Hanya di ujung Di antara kesibukan hari ini Kau antar aku pada kebebasan Kemerdekaan dalam cinta Kemerdekaan dalam bercinta Kemerdekaan untuk tercinta Di ujung lorong itu kita bersua Hanya di ujung Di ujungnya berdiri aku Sempoyongan bagai kerbau dengan marijuana Tanpa tahu arah Hanya embun mengenali daunnya Ular Besi, 28 Juni 2011 00:10 Andrall Intrakta DC