Langsung ke konten utama

Gadis Itu

"Hei, gadis berambut hitam pekat! Tengoklah sejenak kemari!"
Namun aku belum bisa memberikan seperti apa yang sekarang kau miliki apalagi untuk masa depan. Berdiri sejajar denganmu pun aku tak mampu. Kau memiliki segalanya. Sementara aku hanya pria dengan sebatang rokok di sela jemarinya. Celana robek yang setiap tiga bahkan empat bulan sekali kucuci, dan kaos oblong dengan gambar ganja, serta rambut gimbal yang selalu kugerai tanpa pernah tersentuh sisir. Tanyakan itu pada semua orang di cafe ini, pasti mereka tahu siapa orangnya. Ya, itu aku.

"Hei, kau gadis di meja nomor 14! Palingkanlah sejenak wajahmu untukku!"
Sesekali kau menoleh, meski dalam hitungan detik. Wajahmu teduh. Aku tiada daya menyapa, aku hanya bisa menikmati keindahan bidadari dari jauh. Sudah cukup bagiku menatap asri matamu dari sela helai rambut gimbalku yang menutupi wajahku ini. Gerah rasanya. Ingin kupangkas rambutku agar bisa dengan leluasa mata ini menatap wajahmu yang segar.

Ini aku, pria dengan berjuta kata yang selalu dirangkai, tapi tiada pernah menemui titik untuk menggambarkanmu. Setiap sore, menjelang senja, kau sibuk dengan laptop dan jus Alpukat di samping kananmu. Entah apa yang kau kerjakan. Yang pasti ada puluhan kuas di mejamu, dan beberapa kanvas di samping tempat dudukmu. Tiap beberapa menit sekali, kau menghela nafas panjang, entah apa itu tandanya.

Sementara aku, terus merangkai katakataku. Menjadikannya diksi, lalu lahir sebuah kalimat. Lantas kukawinkan kalimat ini menjadi sebuah paragraf dengan beberapa anak kalimatnya. Dan berujung pada sebuah cerita tentang gadis berpipi kue bakpaw yang tiada daya aku menemui titik. Yang kutemui adalah hanya beberapa puntung rokok di asbak yang seyogianya sudah tak kuasa menampung puntung terakhirku ini. Sehingga aku kuwalahan membersihkannya. Tapi aku acuh melihatnya berantakan. Buat apa ada cleaning service di cafe ini?

"Hai, Amalia!"
"Hai!"
Suara gemuruh menghempaskan isi seluruh cafe ini. Riuh kicau gadisgadis belia yang baru duduk itu, mengenangkan aku pada teman lamaku yang juga bernama Amalia.
Ah, mana mungkin dia teman lamaku? Tapi ada persamaan antara Amalia teman lamaku dengan Amalia yang ada di depan mataku. Pipi gembul dan badan yang sintal yang menjadi alasanku. Tapi.. Entahlah!

"Hai, gadis dengan wangi cendana! Lemparkanlah pandang matamu padaku!"
Kuteguk setengah gelas kopi yang sedari tadi kubiarkan dingin, lalu kuhisap dalam rokokku. Suntikan keteguhan hati untuk mencoba menerka siapa gadis itu sebenarnya. Di sampingnya tergeletak sebuah ponsel, mungkin memang miliknya. Kubuka kontak telepon di ponselku.
Adi
Alex
Alit
Alvio
...
Hingga kudapati nama Amalia aku berhenti. Segera kupencet tombol hijau untuk namanya.
Tuut.. Tuut.. Tuut..
"Halo?"
Klik!
"Hai, kau! Gadis dengan sedikit poni di ujung ponsel sana!"


Jakarta, 18 Juni 2011 13:41
Andrall Intrakta DC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Perpisahan yang Menyisakan Ampas Rindu Tanpa Ada Temu

Untuk wanita yang sebenarnya kukagumi, tapi malu untuk kuakui: Shofi Awanis Musim hujan turun di Magelang. Begitu jelas kau mengawali kenangan. Ya, kenangan. Kerna di awal kau tulis sebuah prosa atas namaku di laman harian daringmu, aku tak pernah mengira itu akan menjadi sebaris kenangan. Ternyata, gesek dawai pada biolamu menyadarkanku; betapa perpisahan tinggal menghitung hari. Sebelumnya, biarkan aku menjelaskan. Aku tak sepuitis yang kau kira. Aku tak serapi tulisan kupunya. Aku tak selayak kau kagumi―meski kau malas untuk mengakui. Malam ini, aku terenyak begitu melihat posting dua buah rekam gambar yang akan membantu membuatmu ingat hari ini di musim dingin New York nanti. Alunan nada dan suara sembermu yang sebenarnya cukup baik itu mengatakan padaku arti sebuah perpisahan yang berulang. Ya, berulang. Tapi kurasa tak perlu kutulis kembali dua perpisahan yang kualami sebelumnya di surat ini. Sementara kau sudah tahu betul bagaimana kesepianku menghadapi dua ai...

Seorang Cowok yang Dicap Baperan Karena Tulisannya. Apa yang Kamu Tulis, Menentukan Karaktermu

S esuai kesepakatan sebelumnya, pada minggu ini giliran saya untuk menulis dalam #HipweeJurnal. Itu berarti, saya harus mengenalkan diri saya pada siapapun juga yang merelakan waktunya yang berharga untuk membaca pengakuan saya ini. Maka, akan saya kisahkan bagaimana seorang lelaki yang begitu menggilai Seno Gumira, mendapatkan predikat baperan di kehidupannya dan perihal beda antara baper dan sensitif. Karena memang karakter ini jugalah yang telah disepakati untuk saya. Kendati saya agak berontak ketika para penulis Hipwee—termasuk Soni, tentunya—serempak menyebut karakter saya adalah seorang pujangga bermuka preman hingga (bercita-cita menjadi) playboy tapi baperan. Hah! Memang agak aneh ketika saya dicap sebagai orang yang baperan. Padahal puisi yang saya tulis nggak melulu soal perasaan Untuk kamu ingat, barangkali suatu hari kita bisa bertemu, saya satu-satunya punggawa Hipwee yang berambut panjang gondrong dengan karakter wajah yang cukup sangar. Sekiranya sepert...

Wanita yang Mencoba untuk Sintas dalam Sinjangnya

untuk: seorang penulis Hipwee  Seperti sore itu, sebuah tanya di ujung daun Limbung kerna tetes air hujan sebelumnya Bagaimana bisa aku mencintaimu pagun Bilamana ada pertemuan di antaranya *** Sekukuh angsana selebat hujan sebelumnya Begitu kau tampak di balik terawang-remang Mungkin jarak kedua alismu yang renggang Mungkin lipatan baju kemejamu yang tiada menjadi persepsi yang mendasar tentang persoalan pembagian ruang Sekukuh angsana selebat hujan sebelumnya Kau tampik selir menyelir udara Kau tolak segala guruh samudera Sementara ketika udara resap dalam tubuh dan cuaca bagai sepucuk teluh Bersatu dengan sukma Bergelut dengan raga ; Mau apa? Bisa apa? *** Seperti sore itu, sebuah tanya di ujung daun Limbung kerna tetes air hujan sebelumnya Maka itulah tanyaku; memerhatikanmu dari jauh dari pandang yang tak pernah kau sentuh Yogyakarta, 1 November 2016 Andrall Intrakta DC