Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label sahabat

Nunung, Wanita yang Sudah Jauh Lebih Dewasa

Setelah kepindahan kami ke UK, semua kisah menjadi lebih rumit. Tapi pendewasaan kita bermula dari indekos di UK. Mulai dari jarak dalam satu kota, hingga jarak antarkota. Tapi bukan berarti saya tak akan menghadiri hari bahagiamu. Masa kritis, masa di mana pendewasaan kita benar-benar diuji. Kalau dibilang, nano-nano ya, Nung? Asli, ini lu kayak ibu-ibu sosialita! Demi menjaga kestabilan negara, saya akan banyak memotong dongeng ini, dan maaf atas pihak yang kebetulan berperan dalam babak ini. Sebenarnya, terlalu sulit saya memotong dongeng pada babak hidup ini. Periode 2011-2013 begitu menyimpan segunung kisah yang menarik. Tapi demi menjaga perasaan semua pihak, biarkan cerita ini sedikit mengalir dengan sedikit imajinasi yang silakan kalian bangun sendiri. Sebagai tukang cerita, saya akan memulai mengisahkan air mata yang mengalir dari mata Nunung pada malam itu. Dan sejak saat itulah, saya mulai rutin mengoleksi semua kesedihan dan kebahagiaan yang ada. Meski p...

Nunung, Si Gadis yang Ingin Beranjak Dewasa

Aku masih ingat betul bagaimana perkenalan kita di pertengahan tahun 2010 lalu. Masa di mana kita sama-sama berjuang dari nol, mengenai kehidupan fana ini. Masa di mana kita benar-benar ditempa untuk menjadi dewasa dengan beragam cara. Sedikit cerita, tanpa mengurangi rasa hormat, izinkan saya menuliskan kisah absurd kita selama beberapa tahun terakhir; dari mengenalmu sebagai orang asing, menjadi saksi tangismu, hingga menjadi pagar betis di hari bahagiamu. Hai, Nung! Masih adakah cerita ini yang kamu ingat? Masa perkenalan yang sangat genit. Jadwal kuliah menjadi alibi paling klise memulai percakapan yang terkesan sulit. Ini pas semester ada matkul Pendidikan Agama. Haha Masa Orientasi Mahasiswa (MOS), Agustus 2010. Siang itu, saya yang tergabung dalam barisan para mahasiswa yang belum saya kenal sama sekali, tapi terlihat begitu kompak, memusatkan pandangan pada satu titik (entah titik, entah bulatan). Lebih jelasnya, kami yang notabenenya laki-laki, baru saja lu...

Surat Perpisahan yang Menyisakan Ampas Rindu Tanpa Ada Temu

Untuk wanita yang sebenarnya kukagumi, tapi malu untuk kuakui: Shofi Awanis Musim hujan turun di Magelang. Begitu jelas kau mengawali kenangan. Ya, kenangan. Kerna di awal kau tulis sebuah prosa atas namaku di laman harian daringmu, aku tak pernah mengira itu akan menjadi sebaris kenangan. Ternyata, gesek dawai pada biolamu menyadarkanku; betapa perpisahan tinggal menghitung hari. Sebelumnya, biarkan aku menjelaskan. Aku tak sepuitis yang kau kira. Aku tak serapi tulisan kupunya. Aku tak selayak kau kagumi―meski kau malas untuk mengakui. Malam ini, aku terenyak begitu melihat posting dua buah rekam gambar yang akan membantu membuatmu ingat hari ini di musim dingin New York nanti. Alunan nada dan suara sembermu yang sebenarnya cukup baik itu mengatakan padaku arti sebuah perpisahan yang berulang. Ya, berulang. Tapi kurasa tak perlu kutulis kembali dua perpisahan yang kualami sebelumnya di surat ini. Sementara kau sudah tahu betul bagaimana kesepianku menghadapi dua ai...

Bapak Djokey

Antara aku dan bahagia di tanganmu ialah kau genggam kepedihan. (kukocok keraguan) Atasmu pelbagai gundah, kau beri seribu poin kurang. Untuk kematian masa lalu ; kita Puspa, 25 Februari 2014

Empat Tujuh

Kepada: 47M Apakah kau masih mau menerimaku?   Yang kausebut nestapa adalah   yang tiada akan pernah menyergap udara sejuk   Di dinding pesakitan kita beradu muka   Kau kenalkan lukamu   Kukenalkan pula rasa nyeri di tubuhku   Pisau mengiris lembut hatimu, kala itu   Apakah kau masih mau menerimaku?   Segala yang menyertaiku   Bagai tak seperti dulu   Aku juga lupa cara bermain koa   Apakah kau masih mau menerimaku?   Di perpisahan jalan kita menemui maut masingmasing   Manakala ada libur panjang di ujung kematian   kita masih bertemu   Surga namanya   Apakah kau masih mau menerimaku?   Berjalan, berfoto, bergeliat bersama   Main, tidur, makan bersama   Kau di mana kini, anak congklak?   Apakah kau masih mau menerimaku?   Sebagai lelaki yang gagah nan rentan   aku mengenalmu lebih dari jutaan kesedihan membelaimu   Lebih dari neraka menyiksa...

Hari Senen

Masih di peron Orangorang menimang sendu Sesekali menyeka bola mata dan hidung yang   tersembunyi Decit masa saling serang kepala mereka Mendentum masa mengisahkan kejadian sore tadi Masih di rumah ibu Masih di peron Orangorang mengeja perpisahan Kata yang terbaca oleh tangis Pagar besi bersaksi untuk persoalan rumit yang tak mampu mengubah hidup Masih di peron Orangorang menindih perih di malam pertaruhan kerumunan bisik berubah senyap Karena mereka ditakdirkan sesungguhnya untuk saling mencintai Senen, 27 September 2012 Andrall Intrakta DC, 21:12

Bukan Jebakan

Sebelumnya, gue terimakasih banget buat semua bradda&sistha yang udah ngucapin ke gue. Baik teman sekolah gue, teman kuliah, sampe teman dunia maya. Gue hargain apresiasi kalian atas hari ini. Gue seneng banget, jujur, gue sampe berlinang! *serius! Ga juga sih :p Tanpa mengurangi rasa hormat gue pada kalian, gue minta maaf banget, nget, nget, nget, ya! :D Sebenernya gue Taurus, guys. So, gue lahir bulan April, bukan Agustus. Tapi gapapa deh, dengan begitu, gue masangin jempol atuatu buat kalian. Sekarang gini, temen faceebook gue ada 700biji, bayangin aja kalo mereka semua nulis di dinding gue, SEMUA. Terus gue nge-like satu per satu. Arrgghh *untung pake tetikus gue* haha :p Semua ini bukan tanpa maksud. Namun maksud hati bukan untuk mempermainkan kalian. Gue engga maksud nipu atau gimana ya, gue cuma pengen tau seberapa sih tementemen gue (sekolah) nginget tanggal lahir gue. :p Khususnya sahabatsahabat gue! ;p heuheu. Buat tementemen kampus, maaaaaaaf ya.. :* (ini...

Katanya Senior, Mana?

KAMI berenam berhenti di depan warung nasi uduk yang tinggal kursi dan meja yang telah berdebu dengan papan namanya. Bukan untuk makan sahur, melainkan menunggu seorang atau beberapa orang yang mengenakan kostum yang tak jauh beda dengan kami. Ya, aku duduk dekat Aris di antara Hazmi dan Azmi. Sementara Rifqi dan Ridho berdiri di belakang kami dengan bersandar di tembok. Kami belum memakai almameter, karena kami enggan dicap sebagai mahasiswa baru. "Hei, hari ini puasa enggak?" tanyaku serius pada anakanak. "Ya, bebas. Kalau sekiranya kuat sampai kelar ospek, kenapa enggak?" jawab Hazmi santai. "Guhe mah puhasa!" seru Rifqi dengan mulut sedikit terkunci oleh rokok. "Hahahaha" spontan kami tertawa. Memang, hari ini sepertinya kami tidak puasa dulu. Untuk hari pertama ospek, sepertinya hal yang mustahil bagi kami untuk tidak berdosa. Bagi aku pribadi, tidak puasa di tahunku yang ke-19 adalah salah, tapi mau bagaimana lagi, aku ingin mel...

Kepada DY

(untuk sahabatku Dhea X Near) Ketika sebatang tembakau racikan Menawarkan kamu atas aku Aku hisap dalam nikmat penuh Kau layangkan aku berbaring di sampingmu Pagipagi menjelang kuliah Dengan segelas kopi hitam dan sebatang filter Terjamahlah mimpiku Kau sundut aku oleh bara kopi dan asapnya Di sanalah awal kita hidup Karena hidup milik Tuhan Tanggal 4 Juni siang itu Hujan merembes dari ruang tubuh Menjalar ke kulit kali basah Menular ke pelupuk mata Tepat dari sudutnya ia keluar Dengan sebatang filter yang masih kau simpan Kau betikkan sebuah surai Semacam silaturahmi atau pencapaian Yang apa pula tak kuhendaki Kini semua gugur Jika waktuku tlah habis, habis pula jarak kita Aku tak butuh rindu Karena rindu menjadi makananku seharihari Di balkon ini, kutulis pesan filter kala malam menghitam Dan ribuan ekor angin menderu di antaranya Masih bersama bayanganmu, kau kenangkan aku atas kocokan gitarmu Remangremang terbayang w...