Langsung ke konten utama

Empat Tujuh



Kepada: 47M

Apakah kau masih mau menerimaku? 
Yang kausebut nestapa adalah 
yang tiada akan pernah menyergap udara sejuk 
Di dinding pesakitan kita beradu muka 
Kau kenalkan lukamu 
Kukenalkan pula rasa nyeri di tubuhku 
Pisau mengiris lembut hatimu, kala itu 

Apakah kau masih mau menerimaku? 
Segala yang menyertaiku 
Bagai tak seperti dulu 
Aku juga lupa cara bermain koa 

Apakah kau masih mau menerimaku? 
Di perpisahan jalan kita menemui maut masingmasing 
Manakala ada libur panjang di ujung kematian 
kita masih bertemu 
Surga namanya 

Apakah kau masih mau menerimaku? 
Berjalan, berfoto, bergeliat bersama 
Main, tidur, makan bersama 
Kau di mana kini, anak congklak? 

Apakah kau masih mau menerimaku? 
Sebagai lelaki yang gagah nan rentan 
aku mengenalmu lebih dari jutaan kesedihan membelaimu 
Lebih dari neraka menyiksamu 
Tapi, 
Kau di mana kini, anak congklak? 

Begitu aku menyebut namamu 
Begitu pula kau sebut namaku 
Berulang kali kita dihina waktu 
Berulang kali kita dilupakan cinta 
Kau di mana kini, Catur Hepta? 



Subang, 22 Januari 2013 
Andrall Intrakta DC | 22:23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nunung, Si Gadis yang Ingin Beranjak Dewasa

Aku masih ingat betul bagaimana perkenalan kita di pertengahan tahun 2010 lalu. Masa di mana kita sama-sama berjuang dari nol, mengenai kehidupan fana ini. Masa di mana kita benar-benar ditempa untuk menjadi dewasa dengan beragam cara. Sedikit cerita, tanpa mengurangi rasa hormat, izinkan saya menuliskan kisah absurd kita selama beberapa tahun terakhir; dari mengenalmu sebagai orang asing, menjadi saksi tangismu, hingga menjadi pagar betis di hari bahagiamu. Hai, Nung! Masih adakah cerita ini yang kamu ingat? Masa perkenalan yang sangat genit. Jadwal kuliah menjadi alibi paling klise memulai percakapan yang terkesan sulit. Ini pas semester ada matkul Pendidikan Agama. Haha Masa Orientasi Mahasiswa (MOS), Agustus 2010. Siang itu, saya yang tergabung dalam barisan para mahasiswa yang belum saya kenal sama sekali, tapi terlihat begitu kompak, memusatkan pandangan pada satu titik (entah titik, entah bulatan). Lebih jelasnya, kami yang notabenenya laki-laki, baru saja lu...

Nunung, Wanita yang Sudah Jauh Lebih Dewasa

Setelah kepindahan kami ke UK, semua kisah menjadi lebih rumit. Tapi pendewasaan kita bermula dari indekos di UK. Mulai dari jarak dalam satu kota, hingga jarak antarkota. Tapi bukan berarti saya tak akan menghadiri hari bahagiamu. Masa kritis, masa di mana pendewasaan kita benar-benar diuji. Kalau dibilang, nano-nano ya, Nung? Asli, ini lu kayak ibu-ibu sosialita! Demi menjaga kestabilan negara, saya akan banyak memotong dongeng ini, dan maaf atas pihak yang kebetulan berperan dalam babak ini. Sebenarnya, terlalu sulit saya memotong dongeng pada babak hidup ini. Periode 2011-2013 begitu menyimpan segunung kisah yang menarik. Tapi demi menjaga perasaan semua pihak, biarkan cerita ini sedikit mengalir dengan sedikit imajinasi yang silakan kalian bangun sendiri. Sebagai tukang cerita, saya akan memulai mengisahkan air mata yang mengalir dari mata Nunung pada malam itu. Dan sejak saat itulah, saya mulai rutin mengoleksi semua kesedihan dan kebahagiaan yang ada. Meski p...

KUSWORO

Ada sedikit kenangan yang terus kukenang Bukan karena aku merinduimu Bukan pula karena waktu lalu tak sempat kusesali Tapi menyadari kekurangan rohani adalah utama Kita pernah duduk menghadap surga Dariku katakata selalu terpampang jelas di udara Darimu segalanya kau sembunyikan dalam keheningan Kita pernah duduk menghadap surga Surga tercinta hanya pada labirin siapa sangka Di mana laci meja terapat tanpa kunci yang pernah kaukisahkan padaku duniawi Aku menjadi dasar zaman di mana belulang dan bebatuan tercanadu bangsawan Apa pernah kau rasuki jiwaku yang suai oleh masa? Masa yang menyeretku untuk menopang mimpi Kuingin kau kala ada aku menjadi rumput Jepang di bisingnya tanah mati Tunjungan, 8 Februari 2013 Andrall Intrakta DC | 22:57