KAMI berenam berhenti di depan warung nasi uduk yang tinggal kursi dan meja yang telah berdebu dengan papan namanya. Bukan untuk makan sahur, melainkan menunggu seorang atau beberapa orang yang mengenakan kostum yang tak jauh beda dengan kami. Ya, aku duduk dekat Aris di antara Hazmi dan Azmi. Sementara Rifqi dan Ridho berdiri di belakang kami dengan bersandar di tembok. Kami belum memakai almameter, karena kami enggan dicap sebagai mahasiswa baru.
"Hei, hari ini puasa enggak?" tanyaku serius pada anakanak.
"Ya, bebas. Kalau sekiranya kuat sampai kelar ospek, kenapa enggak?" jawab Hazmi santai.
"Guhe mah puhasa!" seru Rifqi dengan mulut sedikit terkunci oleh rokok.
"Hahahaha" spontan kami tertawa.
Memang, hari ini sepertinya kami tidak puasa dulu. Untuk hari pertama ospek, sepertinya hal yang mustahil bagi kami untuk tidak berdosa. Bagi aku pribadi, tidak puasa di tahunku yang ke-19 adalah salah, tapi mau bagaimana lagi, aku ingin melakukannya bersama teman-teman baruku. Tapi aku janji kepada Tuhan, suatu hari nanti pasti aku akan menggantinya.
Masih terlalu pagi untuk kami berangkat ke kapus. Setidaknya kami menganggap diri kami sendiri adalah mahasiswa paling rajin. Pukul empat pagi, bahkan adzan belum berkumandang sama sekali. Tak ada tanda-tanda seruan Tuhan dari masjid hendak bergema. Kami putuskan untuk tinggal di depan warung “Mak Erah” barang sejenak, sampai matahari dating malu-malu. Dinginnya udara fajar tenggelam dalam percakapan-percakapan kami berenam. Sebenarnya kami membicarakan apa saja yang akan terjadi nanti di kampus. Kami menerka sebuah senioritas melambung tinggi dengan segala keangkuhannya. Dan kami menyiasatinya dengan keyakinan bahwa senioritas adalah susuatu yang bersifat sesat – waktu ospek itu juga.
Tak lama kami berbincang tentang senior, dengan langkah mantab dan semangat yang membara, tampak dari arah barat seorang lelaki dengan peci hitam legam melaju kearah timur – akan melewati kami. Segala kertas ada di dada dan di punggungnya yang sedikit basah oleh keringatnya, kami menyapanya..
“Hai!” seru kami. Kami hanya ingin mencari teman untuk berangkat ke kampus bersama. Entah kenapa, sepertinya anak itu terkejut bukan main. Dengan sikap tegap layaknya hendak bertanding judo, dia menjawab:
“Siap senior! Ada apa, senior?” Kami yang lebih terkejut, memasang wajah santai. Lantang kami menodongnya dengan pertanyaan selanjutnya.
“Ehm, tadi dianter sampai mana?” tanya Aris dengan wajah serius sambil menghisap rokok yang baru saja dibakarnya.
“Eh, emm.. Sa, sampai halte doang, senior.” jawab anak berkepala botak itu dengan gagap. Sepertinya dari kepalanya mengalir bulirbulir air yang tak lain adalah keringat. Aku melihat jam yang ada di pergelangan tanganku yang menunjukan pukul setengah lima, aku yakin itu adalah keringat ketakutan, karena ia menyembunyikan sesuatu dari kami.
“Serius lo? Dianter sampai mana?” tanya Ridho sambil berdiri dan menenteng almameter dengan tak kalah gagah.
“Iya, senior. Demi Tuhan, senior. Cuma sampai halte!” tambah anak itu.
“Ya udah, nanti kalau ketemu senior lagi, disapa ya! Jangan senior dulu yang nyapa! Ngerti?” seru Aris, pria dengan sosok yang bisa dibilang paling pantas menjadi senior di antara kami.
“Iya, senior. Terimakasih, senior!” ucapnya kali terakhir sambil menekuk badannya ke depan tanda perpisahan.
Anak itu berlalu dengan girang, lebih tepatnya ketakutan. Aku melihat pergerakan kakinya yang begitu cepat, seperti dikejar hantu anjing. Mungkin dia juga tidak puasa? Entahlah. Aku mengacungkan jempolku, tanda bahwa anak itu telah tiada. Lantas kami terbahak lepas. Seperti kala SBY menduduki Istana Presiden untuk kali kedua.
“Mungkin seperti itulah menjadi senior!” celetuk Aris di sela-sela tawa dan asap rokok kami.
“Eh, ayo berangkat! Kayanya udah mau mulai nih acaranya!” ajak Hazmi dengan rasa takutnya.
KAMI berangkat ke kampus dengan membusungkan dada. Predikat senior ‘dadakan’ telah melekat di diri kami. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang tak membosankan. Setidaknya dengan adanya predikat yang kami usung itu.
Sesampainya di kampus, Hazmi dan Rifqi berpisah dengan aku, Aris, Azmi, dan Ridho. Mereka beda jurusan dengan kami berempat. Hazmi dan Rifqi adalah mahasiswa kalkulator, yang sepanjang hidupnya dalam kapus hanya bercumbu dengan angka, sementara kami berempat harus bercinta dengan kata-kata. Ya, kami jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bertolakelakang memang, tapi keunikan yang kami milikilah yang menyatukan kami dalam sebuah persahabatan. Aku yakin itu. Dan mereka mengamininya.
Aku, Aris, Azmi, dan Ridho merupakan mahasiswa paling santai sejurusan. Betapa tidak, perlengkapan yang kami bawa sangatlah minimalis. Jiwa seni – pemberontak – kami telah muncul. Meski jiwa seni tak semua bersifat pemberontak. Sejatinya kami hanya malas untuk membuat semacam kerajinan tangan seperti itu, yang hanya akan menghancurkan bumi. Bayangkan saja, para senior menyuruh kami membuat tanda pengenal dengan ratusan lembar kertas yang harus dihias sekreatif kami. Sementara kertas terbuat dari pohon. Semakin banyak kertas yang terpakai, maka semakin banyak pula pohon yang ditebang. Dan itu mengakibatkan Global Warming! Kurang lebih itulah penjelasanku kepada senior nanti bilamana meraka menghukum kami berempat. Toh, mereka juga tak akan marah di bulan suci ini.
Pukul 07.00, seperti acara-acara biasa, upacara peresmian masa orientasi mahasiswa baru, dilaksanakan di lapangan. Oleh Presiden Universitas, pembukaan dibacakan dan semua mahasiswa menikmatinya. Hanya kami berempat yang jenuh dengan celotehan yang sebenarnya hanya bersifat formalitas ini. Sang Rektor berdiri dengan angkuhnya di atas mimbar. Seperti pemimpin-pemimpin Negara pada umumnya – yang gemar berbohong – sambutan oleh Rektor tak kunjung selesai, hingga 10 menit berlalu dari waktu yang dijanjikannya di awal sambutan, yang katanya tak lebih dari 5 menit.
“Satu, dua, tiga! Hahaha” tawaku setelah hitungan ketiga. Satu per satu mahasiswa di lapangan ini mulai berguguran dalam medan yang tak bersahabat. Dan kami berempat masih bertahan, meski sesak nafas. Sesekali kami menarik jakun kami masing-masing, karena dengan begitu, beberapa tetes air dalam kelenjar yang ada di lidah kami turut serta masuk ke kerongkongan. Entah dengan mereka. Aku yakin mereka tak memiliki pikiran sama seperti kami.
AKHIRNYA, setelah mulut Sang Rektor berbusa, upacara pun selesai. Kami berempat baris berjajar dengan mahasiswa jurusan kami menuju tanah lapang yang memang khusus untuk kami. Untuk jurusan yang lain pun demikian. Di bawah matahari yang sangat terik, kami yang tak puasa merasakan dahaga yang cukup membuat tenggorokan kami seperti gurun tanpa pasir yang kering. Lantas aku memandang mereka yang bersabar menanti adazan magrib dengan miris. Bagaimana dengan mereka, ya?
Ketika kami baris dengan sangat rapi di bawah peluit sang Senior, dari arah belakang terdengar suara gemuruh yang mengentak keheninganku.
“Apa-apaan, mereka?” bisik Aris dari belakangku.
“Entahlah. Mereka merasa paling jago kali!” jawab Ridho kesal.
“hahaha.. Biarin aja dah!” seruku seakan tak peduli.
“Boy, itukan bocah yang tadi pagi kita hadang!” kejut Azmi sembari menujuk seseorang yang sama persis dengan anak yang tadi pagi kami hadang.
“Yang mana, yang mana?” tanyaku peduli.
“Itu, yang ngeliatin kita dengan sinis!” Lalu kami tertawa dengan bangga, meski ada pihak yang pasti sakit hati, merasa tertipu oleh senior gadungan.
Warnet, 24 Juli 2011
Andrall Intrakta DC
"Hei, hari ini puasa enggak?" tanyaku serius pada anakanak.
"Ya, bebas. Kalau sekiranya kuat sampai kelar ospek, kenapa enggak?" jawab Hazmi santai.
"Guhe mah puhasa!" seru Rifqi dengan mulut sedikit terkunci oleh rokok.
"Hahahaha" spontan kami tertawa.
Memang, hari ini sepertinya kami tidak puasa dulu. Untuk hari pertama ospek, sepertinya hal yang mustahil bagi kami untuk tidak berdosa. Bagi aku pribadi, tidak puasa di tahunku yang ke-19 adalah salah, tapi mau bagaimana lagi, aku ingin melakukannya bersama teman-teman baruku. Tapi aku janji kepada Tuhan, suatu hari nanti pasti aku akan menggantinya.
Masih terlalu pagi untuk kami berangkat ke kapus. Setidaknya kami menganggap diri kami sendiri adalah mahasiswa paling rajin. Pukul empat pagi, bahkan adzan belum berkumandang sama sekali. Tak ada tanda-tanda seruan Tuhan dari masjid hendak bergema. Kami putuskan untuk tinggal di depan warung “Mak Erah” barang sejenak, sampai matahari dating malu-malu. Dinginnya udara fajar tenggelam dalam percakapan-percakapan kami berenam. Sebenarnya kami membicarakan apa saja yang akan terjadi nanti di kampus. Kami menerka sebuah senioritas melambung tinggi dengan segala keangkuhannya. Dan kami menyiasatinya dengan keyakinan bahwa senioritas adalah susuatu yang bersifat sesat – waktu ospek itu juga.
Tak lama kami berbincang tentang senior, dengan langkah mantab dan semangat yang membara, tampak dari arah barat seorang lelaki dengan peci hitam legam melaju kearah timur – akan melewati kami. Segala kertas ada di dada dan di punggungnya yang sedikit basah oleh keringatnya, kami menyapanya..
“Hai!” seru kami. Kami hanya ingin mencari teman untuk berangkat ke kampus bersama. Entah kenapa, sepertinya anak itu terkejut bukan main. Dengan sikap tegap layaknya hendak bertanding judo, dia menjawab:
“Siap senior! Ada apa, senior?” Kami yang lebih terkejut, memasang wajah santai. Lantang kami menodongnya dengan pertanyaan selanjutnya.
“Ehm, tadi dianter sampai mana?” tanya Aris dengan wajah serius sambil menghisap rokok yang baru saja dibakarnya.
“Eh, emm.. Sa, sampai halte doang, senior.” jawab anak berkepala botak itu dengan gagap. Sepertinya dari kepalanya mengalir bulirbulir air yang tak lain adalah keringat. Aku melihat jam yang ada di pergelangan tanganku yang menunjukan pukul setengah lima, aku yakin itu adalah keringat ketakutan, karena ia menyembunyikan sesuatu dari kami.
“Serius lo? Dianter sampai mana?” tanya Ridho sambil berdiri dan menenteng almameter dengan tak kalah gagah.
“Iya, senior. Demi Tuhan, senior. Cuma sampai halte!” tambah anak itu.
“Ya udah, nanti kalau ketemu senior lagi, disapa ya! Jangan senior dulu yang nyapa! Ngerti?” seru Aris, pria dengan sosok yang bisa dibilang paling pantas menjadi senior di antara kami.
“Iya, senior. Terimakasih, senior!” ucapnya kali terakhir sambil menekuk badannya ke depan tanda perpisahan.
Anak itu berlalu dengan girang, lebih tepatnya ketakutan. Aku melihat pergerakan kakinya yang begitu cepat, seperti dikejar hantu anjing. Mungkin dia juga tidak puasa? Entahlah. Aku mengacungkan jempolku, tanda bahwa anak itu telah tiada. Lantas kami terbahak lepas. Seperti kala SBY menduduki Istana Presiden untuk kali kedua.
“Mungkin seperti itulah menjadi senior!” celetuk Aris di sela-sela tawa dan asap rokok kami.
“Eh, ayo berangkat! Kayanya udah mau mulai nih acaranya!” ajak Hazmi dengan rasa takutnya.
KAMI berangkat ke kampus dengan membusungkan dada. Predikat senior ‘dadakan’ telah melekat di diri kami. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang tak membosankan. Setidaknya dengan adanya predikat yang kami usung itu.
Sesampainya di kampus, Hazmi dan Rifqi berpisah dengan aku, Aris, Azmi, dan Ridho. Mereka beda jurusan dengan kami berempat. Hazmi dan Rifqi adalah mahasiswa kalkulator, yang sepanjang hidupnya dalam kapus hanya bercumbu dengan angka, sementara kami berempat harus bercinta dengan kata-kata. Ya, kami jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bertolakelakang memang, tapi keunikan yang kami milikilah yang menyatukan kami dalam sebuah persahabatan. Aku yakin itu. Dan mereka mengamininya.
Aku, Aris, Azmi, dan Ridho merupakan mahasiswa paling santai sejurusan. Betapa tidak, perlengkapan yang kami bawa sangatlah minimalis. Jiwa seni – pemberontak – kami telah muncul. Meski jiwa seni tak semua bersifat pemberontak. Sejatinya kami hanya malas untuk membuat semacam kerajinan tangan seperti itu, yang hanya akan menghancurkan bumi. Bayangkan saja, para senior menyuruh kami membuat tanda pengenal dengan ratusan lembar kertas yang harus dihias sekreatif kami. Sementara kertas terbuat dari pohon. Semakin banyak kertas yang terpakai, maka semakin banyak pula pohon yang ditebang. Dan itu mengakibatkan Global Warming! Kurang lebih itulah penjelasanku kepada senior nanti bilamana meraka menghukum kami berempat. Toh, mereka juga tak akan marah di bulan suci ini.
Pukul 07.00, seperti acara-acara biasa, upacara peresmian masa orientasi mahasiswa baru, dilaksanakan di lapangan. Oleh Presiden Universitas, pembukaan dibacakan dan semua mahasiswa menikmatinya. Hanya kami berempat yang jenuh dengan celotehan yang sebenarnya hanya bersifat formalitas ini. Sang Rektor berdiri dengan angkuhnya di atas mimbar. Seperti pemimpin-pemimpin Negara pada umumnya – yang gemar berbohong – sambutan oleh Rektor tak kunjung selesai, hingga 10 menit berlalu dari waktu yang dijanjikannya di awal sambutan, yang katanya tak lebih dari 5 menit.
“Satu, dua, tiga! Hahaha” tawaku setelah hitungan ketiga. Satu per satu mahasiswa di lapangan ini mulai berguguran dalam medan yang tak bersahabat. Dan kami berempat masih bertahan, meski sesak nafas. Sesekali kami menarik jakun kami masing-masing, karena dengan begitu, beberapa tetes air dalam kelenjar yang ada di lidah kami turut serta masuk ke kerongkongan. Entah dengan mereka. Aku yakin mereka tak memiliki pikiran sama seperti kami.
AKHIRNYA, setelah mulut Sang Rektor berbusa, upacara pun selesai. Kami berempat baris berjajar dengan mahasiswa jurusan kami menuju tanah lapang yang memang khusus untuk kami. Untuk jurusan yang lain pun demikian. Di bawah matahari yang sangat terik, kami yang tak puasa merasakan dahaga yang cukup membuat tenggorokan kami seperti gurun tanpa pasir yang kering. Lantas aku memandang mereka yang bersabar menanti adazan magrib dengan miris. Bagaimana dengan mereka, ya?
Ketika kami baris dengan sangat rapi di bawah peluit sang Senior, dari arah belakang terdengar suara gemuruh yang mengentak keheninganku.
Apa, apa lo? Apa liat-liat? Awas, awas, kami mau lewat! Minggir, minggir! Jangan hadang kami, urusan bisa panjang!!
“Apa-apaan, mereka?” bisik Aris dari belakangku.
“Entahlah. Mereka merasa paling jago kali!” jawab Ridho kesal.
“hahaha.. Biarin aja dah!” seruku seakan tak peduli.
“Boy, itukan bocah yang tadi pagi kita hadang!” kejut Azmi sembari menujuk seseorang yang sama persis dengan anak yang tadi pagi kami hadang.
“Yang mana, yang mana?” tanyaku peduli.
“Itu, yang ngeliatin kita dengan sinis!” Lalu kami tertawa dengan bangga, meski ada pihak yang pasti sakit hati, merasa tertipu oleh senior gadungan.
Warnet, 24 Juli 2011
Andrall Intrakta DC
Komentar
Posting Komentar