Acap ia cemas di pertalian waktu
Senja buram bagai enggan beranjak
Kecipak kenangan di pelataran rumah
sehabis hujan
Tak surut buai angin mengering
Wanita itu kembali dalam cemas
“Kelepak nasib mana
yang kau cermati?
Burung-burung
kembali pada sarang
Sadar pula ia
pada anak istri
Barangkali orang-orang
perlu menirunya”
Wanita itu kembali dalam cemas
Bibirnya bergetar di ambang fajar
Belum kembang-kembang yang mekar
Belum hangus sampah terbakar
Belum lagi yang lain yang lain
“Ketiplak murung
duniawi kau rindui
Aduh, kau wanita
Tak laik menaruh
duka di dadamu
Ingsutkan onak
belukar darinya”
Wanita itu kembali dalam cemas
Di dinding kesunyian, ia
Tulis masa yang setia memamah
kecewa
Hingga senja, hingga fajar, hingga
gemetar
Ia robek alit pada sisi wanitanya,
hingga burai
UK, 14 Juni 2014
@andindc
| 06:05
Komentar
Posting Komentar