Langsung ke konten utama

Postingan

Mama, Biarkan Anak Lelakimu Sesekali Mengkhawatirkanmu

Hai, Ma. Sepekan bagai lorong panjang nan gelap Kau tahu sejak dulu, bahwa ketakutan Pendar berkat air mata yang tulus Sebab cinta yang begitu kuat Sebab rindu yang terlalu berat Sebab, di labirin tentu sedia Lapang jalan untuk melangkah Hai, Ma. Setepat ini hari, Izinkanlah aku mengkhawatirkanmu Meski hanya doa dalam rindu yang melaju Biarkanlah dokter dan suster merawatmu, Ma Juga, abaikanlah cibiran para tetangga Toh, mereka cuma tinggal dalam kerangjang belanja Bukan mereka yang turut berdoa, ikut bekerja Hai, Ma. Biarkan aku kali ini Mengkhawatirkanmu lewat doa Lalu akan kukirim ke labuhan bahasa cintamu yang sentosa! Jogja, 18 Februari 2016 @ andindc | 21:43

Hai, Pa!

Tiada harapku selain menjadikanmu sejarak pandangku dalam nyata . Bahagialah , semesta bersamamu .

Telah Kusematkan

Telah kusematkan sempat pada merdu dadamu, Kekasih Pada tetes embun pertama di awal kala, temu dan tawa Telah kusematkan tempat untuk rupa kasih yang nyata Untuk tidur siang yang panjang agar bebas kita menafsir kata Telah kusematkan tepat dalam baris puisimu, Kekasih Dalam jeda hela napasmu apa makna kita berduaan Telah kusempatkan silau tuju harimu di muka dangau Tempat di mana kusemat Rindu di hati yang tepat UK, 16 Oktober 2015 06:12

Wanita yang Menjual Jarum Waktu

Kau yang duduk deretan pertama Mengulum waktu bagai purba; lama Tanpa suara dan orang-orang Berbaris antre dan bertanya ; Kaukah membunuh sepi masa? Wanita yang berdiri di akhir cerita Adalah betinaku yang kelak kukenalkan Pada tanah dan halaman rumah Pada jerit kaum papa Pada sakit yang bersarang dan Pada keyakinan-keyakinan yang telah tergaris Turun temurun sejak mula ; Kaukah membunuh sepi masa? Tetapi, Wanitaku, Ia nakal dan jenaka Ia muntahkan jarum jam di muka Bangku deretan pertama, sementara Orang-orang dibuatnya decak dalam Kejut dan takut Maka, orang-orang pun bertanya ; Kaukah membunuh sepi masa? Panggilan untuk penduduk deretan pertama Dari duduk malaju diri Ke muka dan suara-suara didengarnya Maka, kau yang di sana, berdiri dengan tuli yang sebenarnya tuli adalah pura-pura Agar tak ada yang bertanya, ; Kaukah membunuh sepi masa? UK, 12 September 2015 @andindc

SEDINI INI KITA BERPISAH

Seorang mengulosi badannya dengan harap dan doa tiap bebat Tapi bukan bayi tubuhnya Tapi melainkan menyerupai bayi ingatan dan kenangan dibikinnya sama Nun jauh di seberang pusara Seorang menggulai jiwanya dengan harap dan doa tiap sendok Biji kopi daun teh bergulat sama isi Tapi bukan bibi berdiri di pawon Mangkuk dan gelas dipilinnya beling Nun jauh di seberang pustaka Dua orang mengepung aksara Seakan kata-kata terbakar suasana Buku bagai tiada sedia Jarum jam menusuk dada dan mata Nun jauh di surga, harapan bertinggal andai UK, Desember 2014

Sedingin Ini Kita Merindu

Kau bagai ubun-ubun menyemak rimbun Melontar dahaga dan lahak asam perut Gumaman akhir petang melaras keributan pada asmara Toh, asmara hanya sebatas lempang pukang Apa daya manusia mengapit cinta? Kau bagai ubun-ubun menyemak rindu Usai kau limbang seluruh isi bumi Kesia-siaan menyeberangi lautan bahasa Toh, bahasa hanya identitas belaka Apa guna memainkan kata? Kau bagai ubun-ubun menyemak temu Tak jadikah kau kirim kabar lewat kalbu? Toh, di sini aku menyemai kelam Melewati rembang dan petang dengan kentang Sumber: Kamar Baca @andindc UK, 7 Desember 2014 | 11:33 AIDC

Musim I

Untuk: A. W. (Sudah berlabuh berapa rembulan dalam dompetmu?) Malam begitu larut hingga belasan perahu tanpa cadik menenggelamkan lautan Angin kesiur diterpa resahmu yang menjadi Sekian lamanya tanya pada kepalamu berendeng memanggil jawab ; kapan bapak pulang Pagi begitu buta tak duga Resahmu yang gemulai menjelma gamang yang aduhai Kian mendamba keragu-raguan sebab di meja makan tudung saji mengangkangi udara dan meja urung riuh sedia masa Siang begitu sama dengan sebelumnya Tiada kupu-kupu gajah melesak di antara paha Atau sekadar melenggang mengitari ingatan Sebab di sana terperam tanya yang sama ; kapan bapak pulang Sore begitu jingga hingga matari Menopang setiap jiwa yang kembara Kudian kau kenang persoalan Buah jatuh dekat dengan pohonnya maka jutaan tanyamu yang itu itu saja terjawab sudah ; ia ajarkan untuk melupakan kesetiaan UK, 14 September 2014 3:45