Langsung ke konten utama

Postingan

Sebuah Surat yang (Belum) Usai

Papa, Hari ini aku akan diwisuda Kutulis surat padamu jauh sebelum harinya Agar kau tahu betapa aku harap dan doa Sebagaimana harusnya itu terjadi Papa, Kali ini aku tak akan mengada-ada soal berita Di sudut koran di kotamu sana Kudengar kau telah berkeluarga Entah burung mana membawa air mata Tapi kurasa tak semuanya melempar dusta Aku turut bahagai dengan pulihmu Dua tahun silam, terakhir dan pertama Kau kirim sapa pada Bumi Kau kirim kenangan pada Matahari Kau kirim terang pada Bulan Kau kirim sepaket suka-duka pada kami Kau ingat, kan, Pa? Papa, Untuk ujung senja ingin sekali kutagih janjimu Janji kita di awal petang Sebagai penambal luka sebagai penghapus masa renta Atau sekadar basa basi yang tak segera terlaksana Kau masih ingat, kan, Pa? Betapa masa-masa menjadi kata-kata Mengawang di udara Membara di pelupuk mata Makna menjadi modus imperatif bagai aku laku keliru Apa benar, ayah kencing berdiri, anak kencing berlari? Ah, kau tak kunjung sadar...

WANITA YANG BERJAGA DI AMBANG JENDELA

Acap ia cemas di pertalian waktu Senja buram bagai enggan beranjak Kecipak kenangan di pelataran rumah sehabis hujan Tak surut buai angin mengering Wanita itu kembali dalam cemas “Kelepak nasib mana yang kau cermati? Burung-burung kembali pada sarang Sadar pula ia pada anak istri Barangkali orang-orang perlu menirunya” Wanita itu kembali dalam cemas Bibirnya bergetar di ambang fajar Belum kembang-kembang yang mekar Belum hangus sampah terbakar Belum lagi yang lain yang lain “Ketiplak murung duniawi kau rindui Aduh, kau wanita Tak laik menaruh duka di dadamu Ingsutkan onak belukar darinya” Wanita itu kembali dalam cemas Di dinding kesunyian, ia Tulis masa yang setia memamah kecewa Hingga senja, hingga fajar, hingga gemetar Ia robek alit pada sisi wanitanya, hingga burai UK, 14 Juni 2014 @andindc | 06:05

WANITA YANG MELUPAKAN INGATAN

Separuh malam, ia habiskan waktu yang sebentar meleburkan cinta Sementara iba menggayut di kerongkongan Belum habis masa memakan usia, enyah segala rupa kenangan di pijar sekitar lilin Wanita itu... Barangkali kesedihan ialah laik ia tinggal, maka seseorang hadir di tengah kesepian nyata Ia coba lebur angkara, aksara berbicara menafsir tampak mata Ia tak kuasa berdusta Seseorang mengemas hati mereka dalam benian Ia lupa, di mana wanita itu menaruh rasa sumber @andindc UK, 2014

MANALAGI

Masih kau sukar membakar jarang yang menyandar? Butuh kau semacam kertas tanpa tinta? Agar api segera kobar dan membuat silau Kadang pemantik tiada bara di akhir Kerna bosan, sebab ibunya tak kunjung sadar Sebab ayah pun tak menyilaui anaknya Masihkah kau sukar meredam padam kadang yang mendamba? Seribu tahun datang seratus andai terabai Maka, andaiandai tiada tanah basah atawa air kering di samudra bahasa Jangan salahkan pensil tanpa kertas ; tercoretlah dinding rumah ibu sumber: republika.co.id UK, 28 Mei 2014 | 00:26

Pulanglah, Wanitaku, Temui Berai Air Mata

1 Wanitaku Ada masa di mana rencana ke depan bukanlah urusan remeh temeh. Bukanlah pula aku tak memikirkannya. Tapi keharusan untuk menanggalkannya di rak buku juga tak bisa kuabaikan. Kita telah mafhum bagaimana cinta yang bernas menggigilkan ilusi. Intuisi getir mendewa di pangkal lidah, menyeka kerongkongan, menyekat syarafsyaraf, dan meringankan tugas pembuluh darah, agar sirkulasi melaju lamban. Itu berarti, kesunyian mendamba di ujung purnama. 2 Wanitaku Perihal kita tunduk pada perut gunung, ialah bukan kerna kita kehabisan stok air minum atau kram yang membikin kita keram di tempat. Tidak, jangan salah. Kita menapak pada batu yang sama dan benar. Tujuan mendaki dan mencapai puncak, mencium bau keabadian cinta, dan sekadar mengambil potret bersamanya, tentu hadir di awal petualangan kita. Sebelum barangbarang tersempalai di lantai dan kita jejalkan dalam tas, tentu, tujuan kita sama setelah sampai puncak; turun dengan bahagia. 3 Wanitaku Jangan lagi kau sesalkan malam ...

SURAT UNTUK MANTAN

Telah kuterima suratmu minggu lalu, ketika Pak Peno datang ke gubukku dengan sepeda bututnya sore itu. Tak kuduga kau menulis surat lagi untukku setelah sekian tahun. Bukankah kau pernah berkata padaku selepas hilangnya senja dari matamu, kau akan gantung pena? Sebagai perempuan yang kukenal penepat janji, kupertanyakan kata-katamu, Lis! Perkataanmu kala itu kuamini. Aku pun ingin gantung pena. Tapi, lantas bagaimana kalau aku menepatinya, sementara suratmu telah sampai di meja makanku? Apakah harus kutanak bersama dengan beras-beras yang berhasil kudapat dari panen kecilku? Atau harus kulipat ia menjadi seperti kotak sebagai asbak abu rokokku yang kerap mengganggu tidur malammu di kasur kamarku? Sungguh sia-sia penantianku selama ini bila itu terjadi. Tidak, itu tak akan kubiarkan terjadi. Aku lelaki, dan kali ini aku akan mengingkari janjiku. Baru kali ini aku mengingkari janjiku, bukan? Rupanya, kita memang telah sepakat untuk mengingkarinya. Kau tahu, selama ini aku tak ...

KEPADA RUMAH KEDUAKU

Ini bukan surat seperti yang Bang Step tulis di blog-nya. Sebenarnya tulisan ini serupa dengan Curhat Alogo, tapi kali ini, sama sekali tidak membahas naskah. Ya, nyrempet sedikitlah, ya. Hehe. Usia curhatan ini ada di computer jinjingku hampir sebulan. Tapi aku malu menaruhnya di blog. Kukira tak laik untuk kupamerkan pada khalayak. Tapi, akhir-akhir ini, orang-orang mengajariku untuk jujur walau berbuah buruk―meski sebenarnya aku sering melakukan kejujuran ini. Kepada Bang Step, tenang, Bang, ini curhat tak akan melebihi surat cinta-mu yang katamu paling panjang itu. Hehe Ya, curhatanku ini masih seputar keluarga keduaku. Kejadian bermula ketika MPA jurusan di aula S. Ruang yang sempit, sesak oleh maba, dan kecanggungan antarmaba kerna belum saling kenal. Pembawa acara waktu itu mempersilakan semua organisasi yang ada di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dari pecinta alam, komunitas penulisan kreatif, hingga terakhir―yang kuperhatikan―ialah Bengkel Sastra. Segera fokusk...