Langsung ke konten utama

Postingan

SURAT KEPUTUSAN

Yth. Nyonya Luphi                                                                          Negeri Senja, 26 April KELAK Di Kebahagiaan Dengan taat, Datangnya surat ini kepada Nyonya, saya, pria dengan tak terhingga kasih dan cinta, memohon sangat ketabahan, kerendahan, dan keikhlasan hati untuk putri semata wayang Nyonya. Ada pun maknanya, saya sadar dan sabar, izinkan saya untuk berujar janji cincin jari manis dengan putrimu, Alina. Restuilah perjalanan kami melewati tangga menuju altar surgawi. Saya kira Nyonya sudah paham dan mengerti, sebab tujuan utama manusia adalah untuk kembali ke semesta. Demikian, Nyonya, surat ini saya tulis dan baca dengan sadar, tulus, cinta, dan harap kepada Nyonya untuk putri mungil Nyonya. Atas segala restu, saya ucapkan syukur terima kasih. Sala...

Sebelas Purnama Lewat Depan Rumahku

Malam perpisahan larut tanpa belaian Segera pagi, senyum terbit dari bibir tipismu merekah Seolah kau mengingatkan ; sarapan itu penting! Atau sekurang-kurangnya ; jangan lupa, matikan kipas angina di kamarmu, ya! Selalu halaman kau ulas lembut tanpa luput Jemari yang gerimis kerna bila petang menjelang Jumpa menjadi di layar ponsel atau esok harap masih aada matari Malam perpisahan larut tanpa belaian Segera pagi, senyum terbit dari bibir tipismu merekah Masih setia kau mengetuk kamarku Segelas susu sepotong rindu bertabur cinta rebah di pelukku Ya, pagi yang gemilang, sebab Sebelas purnama lewat depan rumahku Rumah-tangga kita Februari 2014

Bapak Djokey

Antara aku dan bahagia di tanganmu ialah kau genggam kepedihan. (kukocok keraguan) Atasmu pelbagai gundah, kau beri seribu poin kurang. Untuk kematian masa lalu ; kita Puspa, 25 Februari 2014

SEBELUMNYA

                                           Untuk: Adi Widayat Persoalan berlanjut seiring hijau lampu melaju Aku yang gemetar dalam mencoba mengingat Bahasa apa yang ia kerahkan sebagai armada Menuju benua air mata, kerna cinta Ia pula menyebut cinta bagai rajawali perkasa Dulu kini telah bukan sebagai kesakitan Aku melibas lampu jalanan lampu taman dan lampu lainnya Lampu kamar lampu ruang makan Lampu diskotik lampu masa depan Tidak ada satupun yang padam Di meja makan Ibu bercerita Tentang keadaan politik di medan zaman Perekonomian yang sulit terus melilit Kesehatan yang tak kunjung dewasa Dan air mata menggenangi belasan tahun tanpa tatapan kami Duhai, jendral dengan jutaan armada bahasa Berita apa yang kaubacakan sore nanti? Adakah mengenai tata kota ekonomi politik kesehatan pendidikan? Mana yang lebih penting Sekara...

SILAKAN, HAI

Kupikir kita harus mencukupkan segala yang lempang-pukang pada papan sekarang ini Kupikir kita harus mencukupkan yang telah terkenang berulang tiap malam Kupikir akan kauhinap ini sajak Kerna aku tertidur bertilam air mata Membaca Alam, 29 Juni 2013 AIDC

Ada yang Ia Sembunyikan

Hai! II

Alina tersayang, Berabad lamanya aku berlayar Mencari dermaga bahasa kalbu Di kandungan Ibunda menyisakan teka-teki yang konon menjadi rahasia langit dan bumi Sampai entah kapan Tak segera kutemuinya Purnama lebih banyak kutonton di atas kano Aku nahkoda bagai kuda, liar dan beringas Aku tahan lapar dan dahaga Nafsu dan cinta kubui berbulan-bulan Jangkarku yang kekar berkarat di sampingku Biar mudah kulempar ketika kutemukan kau Alina tersayang, Tanpa radar tanpa sonar Masih sabar masih nanar Terkembang layar Tergantung angin menawar Akhirnya tersasar Pulau-pulau tersambangi aku Tak sedikit dari mereka mengenal cinta Harta dan tahta diperebutkan di ranahnya Ada pula wanita jadi mainan anak-cucunya Sulit sekali aku berangkat ke barat Alina tersayang, Kapalku menua Sebagai kayu ia batang muda Angin menghunus layar Lalu laju kano entah Samudra kenangan menjadi rapuh Mengapung duka-suka waktu lalu Segera Aku in...