Untuk: Kamu
Mengutip
Aan Mansyur,
aku sering diserang keinginan bertanya
apa yang sugguh membuatmu jatuh cinta
kepada wanita yang sungguh aku cintai
itu.
meskipun mungkin kau juga melihat
kecantikan
yang aku lihat di wajahhnya atau
merasakan
pelukan lengannya yang amat pas di tubuhku
pelukan lengannya yang amat pas di tubuhku
Tapi surat
ini tidak aku tujukan padamu, Tuan. Serta merta surat terbuka ini ingin
kusampaikan pada kalian, sepasang—entah bagaimana aku menyebutnya—bekas kekasih
dan juga sahabat sekaligus rekan kerjaku yang kini hangat saling bertukar
dekap, mungkin pula keringat.
Tanpa perlu
aku berbasa-basi, mungkin kau tahu dari angin mana suratku ini berlayar. Sebelum
kau terkejut, biar kuberi tahu di awal, surat ini bagai perahu yang menyimpan
jutaan bahan peledak dan logistik yang tidak sedikit. Begitu banyak tanya dan
heran di dalamnya. Adapun maknanya, mungkin kau bisa membantunya menjawab satu
per satu.
Di mulai
dari awal kedekatan kalian yang terlalu mencurigakan bagiku. Dari awal
perjalanan ke Magelang, awal Mei lalu. Seorang kawan melemparkan tanya padaku yang
waktu itu aku tengah sakau, karena cuaca dan cerutu tak berbanding lurus. Dia bertanya,
ada apa di balik canda tawa kalian selama perjalanan itu. Aku tak tahu, atau
mungkin tak menganggapnya terlalu serius. Sebab selama ini aku selalu memberi
kebebasan pada kekasihku untuk berteman dan dekat dengan siapa saja. Sebab
selama ini telah kusematkan kepercayaan yang begitu besar padanya. Sebab aku
yakin, hubungan kami bukan sekadar sepasang kekasih yang selalu kasmaran ketika
beradu. Lebih dari itu.
Berlanjut
di tanggal 12, di mana aku hendak merayakan hari paling berbahagia selama tiga
musim bersama dengannya. Tanggal di mana kami selalu menyempatkan waktu untuk
menghabiskan hari bersama. Entah dengan apa, kami bisa berdua. Menanggalkan kesibukan,
meninggalkan dunia fana. Tapi hari itu, semua berubah. Bingkisan sebuah restu
pernikahan yang telah kukantongi untuk meminangnya, seperti raib tertelan masa.
Kalian tengah asyik berdua di sebuah ruang nan gelap.
Ya,
semua sirna. Rencanaku untuk mengajaknya makan malam, memberikannya kejutan,
memberi kepastian akan pernikahan. Wanita mana yang menolak pernikahan? Bukankah
semua orang mendambakan sebuah hubungan yang lebih matang? Kurasa tiga tahun
mengenalnya, tiga tahun lebih dekat dengannya, bukan waktu yang sebentar untuk
memberi simpulan; layakkah dia menjadi istri bagi anak-anakku kelak.
Tapi hari
itu, semua berubah. Dan aku sadar, semua orang hanya bisa berencana. Sekeras apapun
aku mencoba, kalau Tuhan tak memberimu izin, mau apa? Ya, aku sadar itu.
Tapi,
Tuan dan Puan. Sadarku tak lantas hadir begitu saja. Banyak peluh air mata dan
keringat yang terkuras untuk membuka mataku. Ternyata ada yang lebih mudah
daripada mempertahankan hubungan; mengenalkan kekasihmu pada teman yang jauh
lebih di atas segalanya darimu, adalah hal yang lebih mudah untuk dilakukan.
Begini.
Aku mencoba memberinya analogi. Kalau dia memang bukan jodohku, sama halnya seperti
aku membawakan seorang jodoh untukmu. Membawakan sebuah meja nan mengilau ke
rumahmu nan megah. Sebuah pertaruhan hati yang sangat besar.
namun aku sungguh penasaran apakah kau
tahu
betapa keras dan bersalah aku telah mengubah
dan membentuknya dari sebatang pohon
pemalu
dan hijau di tepi hutan
menjadi meja di rumahku
Aku membawakanmu
seorang yang benar-benar aku kenal luar-dalam. Angin di dalam dan angin di
badan, aku mengenalnya lebih dari pria manapun di dunia. Bahkan, lebih dalam
daripada calon ayah mertuaku sendiri. Apa yang kamu tahu tentang pergejolakan
hatiku ini, Tuan?
Untukmu,
Puan. Aku tak sepenuhnya menyalahkanmu. Aku mafhum, bagaimana seorang wanita
bisa lebih membuka hati pada pria lain, ketika pasangannya tak bisa memberikan
hal yang lebih padanya. Aku juga bersyukur, mungkin tak akan ada lagi kalimat
sinis yang merobek hatiku, sebab aku yang terlalu pandir, kumuh, dan kampungan.
dan setelah berusaha keras
mengembalikannya
seperti hendak mengembalikan meja menjadi
pohon
tetapi tetap tak berhasil, sekarang
dadaku diganjal
perasaan-perasaan ganjil dan terus
penasaran
untuk bertanya: apa yang membuatmu jatuh
cinta
kepada wanita yang tak
lagi mencintaiku itu?
Dari berbagai
kota yang telah kusinggahi, aku belajar banyak hal. Salah satunya adalah
pelajaran yang semua orang sangat butuhkan: keikhlasan. Ya, aku kini tengah
belajar akan hal itu.
Dengan bergulirnya
surat ini di kedua bola matamu, pastikan paragraf ini kau perhatikan baik-baik. Jangan
sampai ada kata dan tanda baca yang luput kau cerna. Ini surat sebagai pengganti
diriku yang berniat untuk mengajakmu bertemu—tapi tak temu waktu—sekadar mencari tahu apa makna
kedekatan kalian. Tanpa banyak kibul, telah kuikhlaskan hubungan kalian. Mau apa
kalian, mau bagaimana kalian, seperti apa kalian di hidup kalian, aku tak lagi
keberatan. Bahkan, aku tak akan lagi ikut campur. Jangan pernah menanyaiku soal
apapun. Sebab, hanya aku yang tahu letak cacat yang ada di meja itu.
juga berharap menerima diriku sebagai
tukang kayu
yang akan merelakan mejanya kau beli, kau
pindahkan
ke rumahmu—sambil terus berdoa semoga
hanya aku
yang mengetahui letak
cacat yang ada di meja itu
Seperti
itulah akhirnya. Sebagai pertimbanganmu; aku minta maaf dan terima kasih atas
kesempatan satu purnama bertegur sapa dan bercanda bersama. Semoga ada hikmah
yang bisa kutelaah. Jujur, aku menanti tegur-sapa yang pernah kita cipta bersama.
Tabik.
Yogyakarta, Oktober 2016
Andrall Intrakta DC
Komentar
Posting Komentar