Tibatiba, butirbutir air langit jatuh membasahi kaki gunung, merembes ke tanah menuju kota, dan sebagiannya bermuara di hatiku yang tengah pengap akan asap rokok yang setiap harinya kuhisap 10 sampai 12 batang. Sesaknya tak terelakan. Mungkin sudah saatnya aku menghentikan kebiasaanku ini. Ya, kebiasaan menghabiskan waktu di atap rumah, memandang awan yang suci, dan merusak paruparu dengan rokok, kadang juga ditemani segelas kopi hitam pekat dengan sedikit gula. Tampaknya, kini saatnya aku kembali ke rumah untuk berteduh sembari menghangatkan tubuhku.
Kembali aku melanjutkan catatan yang belum usai kutulis tadi. Hujan yang menghambatku menatap awan suci, membuatku ingin berdendang di bawahnya. Barang kali berdendang di kala hujan adalah sebuah kenikmatan yang belum pernah kutemui, yang mungkin bisa membangkitkan hasratku untuk kembali menari bersama pena di atas kertas.
Tuhan memang Maha Benar. Tak salah Dia memberiku insting yang kuat. Ternyata berdendang di bawah hujan sungguh membuatku lebih tenang. Dinginnya yang menusuk tulang, membekukan ingatanku akan awan suci pagi tadi sebelum mendung menggila.
Beberapa anak kecil bertelanjang kaki menginjakinjak bumi dan memercikan air langit yang telah menggenang. Kegembiraan terlukis dari wajah mereka. Wajahwajah lugu yang belum terjamah dosa. Aku yakin, suatu saat nanti mereka akan terjerembab dalam kejamnya hidup yang fana ini. Tak kuasa menahan nafsu dan terlibat adu urat syaraf dengan sesamanya. Tapi aku tak menghendaki seperti itu, hanya Tuhan yang tahu.
Wajahwajah riang mereka tak bertahan lama. Teriakan Ibu mereka dari depan rumah meretakan tawacanda anakanaknya. Ada yang enggan kembali, ada pula yang lari menjauh dari sumber suara dan menantang langit untuk lebih deras membuang airnya. Aku yang sedari tadi hanya duduk di bangku halaman rumah, memandangi mereka dengan jeli. Raut wajah mereka berubahubah, setiap terdengar suara yang tak asing bagi mereka. Aku tertawa, dasar, anak kecil!
Selang satu jam, langit kehabisan airnya. Hujan pun reda. Gerimis tersisa, membasahi bumi. Daundaun dan bungabunga kembali tertawa. Lantas, terbitlah pelangi warna. Ini luar biasa! Mungkin, ini gambaran dari hatiku. Atau.. Entahlah. Aku tak ingin berlamalama menikmati pelangi. Karena bagiku, tak ada yang lebih indah untuk dinikmati kecuali awan suci dan senja jingga, serta berdendang di bawah hujan. Aku kembali ke rumah.
SENJA jingga mengintip dari balik jendela kamarku. Pelanpelan sinarnya memantul ke mataku lewat cermin yang ada di depan meja belajarku dan dari bingkai photo seorang gadis yang selalu kupajang. Dulu hanya ada satu photo yang kupajang, sekarang dia beranak, dua photo dengan dua bingkai. Suatu kali salah seorang sahabatku menegurku atas tindakan tak wajarku. Dia menanyakan sebuah kebijakan dan tanggungjawab, “Kenapa harus kau pasang dua photo yang berbeda karakter di meja belajarmu?” tanyanya. Aku jawab “Entahlah.” Karena memang aku juga tak tahu kenapa aku harus memajangnya.
Dalam hening maupun keramaian, kadang aku merasa aneh dengan sikapku. Entah kenapa, tak ada alasan yang kudapat setelah aku mencari hingga ke dalam otak dan hatiku yang mendasar. Otakku kosong, bodoh! Lantas aku pikir, tindakanku tak salah. Namun banyak suara yang menggelayutiku bahwa semua itu salah. Biarlah ini menjadi konflik panjang dalam narasiku.
Terus kupandangi dua bingkai yang ada di sebelah kiri komputerku, kuambil satu yang penuh warna merah jambu dengan tangan kiri. Indah. Kulemparkan tangan kananku meraih bingkai satunya – lekat dengan warna gelap. Cantik. Kutimangtimang kedua bingkai itu dengan tangan yang berbeda. Tak ada yang berat. Memang aku tak menimbang bebannya. Aku hanya bimbang dalam timangan. Lalu kuletakan kembali di meja.
“Haaah!”
Aku selalu menikmati rekaman gambar tak gerak. Baik di bingkai itu maupun di manapun. Meski objek gambar dalam dunia nyata ia sedang bersedih, tapi yang kulihat dalam rekaman gambar tak gerak itu, ia selalu senyum, manis sekali. Di kedua bingkai itu – sama saja – mereka selalu senyum. Senyum indah yang mereka tunjukan padaku – pasti hanya padaku – tulus dari hati mereka, tak ada kepalsuan atas pose mereka. Aku pun tak memaksa mereka untuk tersenyum. Atau memang mereka lihai menyembunyikan masalah dalam senyumnya? Aku rasa tidak, mereka selalu terbuka denganku. Bahkan masalah internal pun mereka kisahkan padaku.
“Relakan”, seru salah seorang sahabtku waktu lalu, sebelum aku membiarkan bingkai warna merah jambu berdiri sejajar dengan yang telah lama kupajang di mejaku. Ada juga yang meneriakiku, “Tak berwarna lebih bagus!” Aku diam. Retoris. Memang tak perlulah aku menanggapinya. Toh, ini bingkai memang sudah lama tak berisi photo, sejak kepergian Ayah, aku jadi enggan memasangnya lagi. Takut akan genangan air mata yang siap membanjiri kamar kecilku ini. Setelah itu, tiada lagi photo untuk bingkai itu. Sementara bingkai yang satunya, itu bingkai spesial yang memang kusediakan untuk pengganti kekasihku yang juga telah pergi lama – 3 tahun silam.
Tibatiba rintik air mata tak terelakan. Aku cengeng. Anjing! Sampah! Sampai saat ini hanya empat kosakata yang mampu kuhafal, itu pun tak mampu kurangkai dengan baik. Untuk seorang penulis amatir seperti diriku ini, kurasa memang tak patut aku menulis lagi. Apalah yang aku bisa? Tentang morfologi pun aku tak mengerti sama sekali. Apalagi stilistika yang mengharuskan pelanggaran kaidah bahasa atau apalah itu istilahnya. Yang kutahu, aku cengeng, anjing, dan sampah!
Sepertinya alam latah. Di saat pembagian waktu alam telah tiba pada pelangi – seharusnya – alam malah berteriak petir dan menurunkan hujan. Seantero kota gelap, terselimuti oleh mendung, membuat masyarakat enggan beristirahat di waktu istirahat. Dan memaksa aku untuk tidak menemui awan suci dan pelanginya. Baru beberapa menit yang lalu aku melepas pakaianku yang basah oleh hujan, kini aku ingin lagi merasakannya. Aku dibuatnya seolah rindu dengan tetesannya, dibuatnya aku merindu akan rinai air yang teduh. Entah ada apa hari ini? Tanggal 3 November? Ah, angka ganjil!
Kali ini aku tak ingin membasahi badanku untuk kali kedua dalam sehari ini dengan air langit. Aku butuh badan yang fit untuk berpesta dengan pena yang sudah sedari tadi fajar menarinari menggodaku di atas kertas, dan papan tik yang telah merengek menggelinjang minta kawin.
Akhirnya, kuputuskan untuk segera menjamah mereka satu per satu. Mereka terlalu berharga untuk kutinggalkan. Kertas, pena, dan papan tik adalah aku. Mereka adalah nafasku untuk bersosialisasi dengan semua orang. Tanpa mereka aku hanya sebuah patung lilin, yang mudah leleh oleh api sekecil apa. Sementara mulutku ditakdirkan Tuhan hanya untuk makan. Berbicara? Hanya sekadarnya bila memang perlu. Tak adil? Adil. Ini keputusan Tuhan. Aku selalu menikmatinya, hingga saatnya aku harus mengubah keputusan Tuhan. Aku lelap di atas kertas putih di bawah hujan.
“APA yang ingin kau katakan?”
“Ini cantik! Terimakasih, kau telah mengajakku ke mari!” jawabmu seperti tak percaya.
“Apa kau suka?”
“Tepat sekali! Sepertinya aku mampu merangkul bulan untuk malam kita berdua ini!” serumu seraya bertingkah seakan kau mampu meraih bulan lalu menariknya untuk duduk bertiga dengan kita.
“Hahaha.. Nikmatilah, karena tak selamanya bulan bisa kau rangkul seperti itu!”
“Ah, aku tak yakin dengan perkataanmu itu. Aku yakin bisa merangkul bulan dengan leluasa. Selama tak ada yang tersakiti, pasti bisa!”
“Maksudmu? Maaf, aku berbica tentang denotasi.”
“Maaf..” kau menghentikan lelaku ‘meraih bulan’mu.
Sesaat suara kita mengambang di cakrawala. Hanya nafas sengal yang terdengar. Itu pun samarsamar. Perbincangan kita hambar, terhenti oleh bintang yang memancing perhatian kita. Kau begitu menikmati alam malam ini. Sampaisampai aku mengulang pertanyaanku.
“Apa yang kau harap dari alam malam ini, khususnya bulan?”
“Entahlah, aku tak bisa berharap banyak kepada alam, apalagi bulan. Aku masih terlalu belia untuk mengharapkannya.”
“Apa yang kau maksud sebenarnya? Apa kita membicarakan hal yang terlampau masingmasing dari kita tak tahu?” tanyaku heran, yang sedari tadi sepertinya perbincangan kita tiada menemui titik.
“Yang aku tahu, bulan tidak hanya satu, tapi ada dua.” jawabmu sambil memutar badan ke kanan menghadap padaku.
“Apa maksudmu? Tuhan salah langkah?” kuraih tanganmu. Kau mempererat genggaman.
“Tidak! Bulan yang satunya adalah kamu, dan aku adalah bintang. Bolehkah aku menjadikanmu bulan?” pintamu dengan penuh harap dari tatapan matanya yang menusuk pupilku.
“A..a..aku.. aku bulan? Bagimu? Menjadi bulan untukmu? Tapi bulan butuh bantuan untuk bersinar, ia tak mampu bersinar dengan sendirinya. Tak mungkin bisa aku menjadi bulan, apalagi untukmu. Mustahil!” alihku melempar pandang ke langit.
“Aku bintang. Kau tak perlu khawatir!”
“Bukankah seorang pria tak boleh bergantung pada seorang wanita?”
“Untuk yang satu itu, bulan dan bintang adalah pengecualian.”
“Maksudmu?” aku tak mengerti.
“Ah! Lupakan! Aku terlalu sayang padamu!”
Aku terperanjat bukan main. Seolah aku jatuh dari gedung lantai delapan yang sudah kurencanakan – sebuah proses kematian segera menjemput – meski sebenarnya itu tidak terjadi, dan aku hanya bergerak mundur selangkah dari posisiku semula. Satu per satu keringat sebesar biji jagung mengalir dari ruang tubuhku. Aku tak mampu berkata bahkan untuk mengusap bulirbulir keringatku sendiri. Akan lebih buruk apabila aku memintamu untuk mengusap keringatku dan menjawab pertanyaanmu sendiri.
Lama aku bergelut dengan gugup dan gusar. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan di saatsaat seperti ini. Di tempat ini tak kulihat seorang pun, hanya ada kepalakepala tanpa dosa di bawah sana. Meminta tolong kepada mereka rasanya mustahil, mereka tak tahu apa. Sedang mereka tengah mencari nafkah untuk keluarganya di rumah. Lagipula mereka tak mengenal tata surya. Pelajaran geografi mereka pun tidak lulus UN.
Dengan sekuat tenaga aku mengusap keringatku, tampak perlahan memang, tapi itu aku sudah kuwalahan. Barangkali bisa kulap pakai kain lalu kuperas pada sebuah ember bisa jadi penuh dan bahkan sampai muntah. Begitu banyak kelenjar keringatku berproduksi di saat yang bersamaan dengan hati dan otak yang tengah berproses. Hanya bedanya, proses otak dan hati lebih lamban mengeluarkan produknya.
“Kau pernah berkata bahwa jangan sampai bunga itu berkembang, bukan? Apa katakatamu waktu itu hanya sebuah usaha untuk menyembunyikan sesuatu?” tanyaku gagap.
“Iya, aku pernah menyatakan hal itu. Bukankah ada sebuah bunga yang tak butuh pupuk dan air, namun ia tetap bisa berkembang? Ada beberapa faktor yang mampu membuatnya tumbuh!” ucapmu kian lirih dengan tatapan mata yang tak kunjung surut – masih seperti tadi.
“Ini berarti kita melanggar janji kita?”
“…”
Memang tak ada yang salah dengan perasaan ini, hanya badan ini yang terlalu rapuh mengendalikannya. Tak ada alasan yang lebih tepat kecuali badan ini yang melemah. Sementara usia kita telah berumur, tak semestinya kita tak bisa mengatasi badan yang rapuh, bukan begitu? Kita telah dewasa!
Seperti berada di Mount Everest, badanmu lunglai, jatuh di dadaku yang bidang karena dinginnya yang tak terelakan. Nafasmu yang dingin terasa jelas di leherku. Bau tubuhmu tak asing lagi. Baubauan ini berasal dari tubuhku yang mengenalkan kepadamu atas diriku. Satu waktu itu kau meminta baubauan itu sebagai pengganti diriku saat aku tak ada. Lalu aku memberikannya setengah botol.
Entah apa yang kurasakan saat itu, mendekap hangat badanmu yang mungil, serasa hidup di antara jutaan bintang. Kau erat melengkuh karena angin tak bersahabat, katamu kala itu. Kubelai rambutmu yang tipi situ penuh kasih, dan kau mainkan rambutku yang gimbal. Kataku, cerita ini tak lebih seperti rambutku yang gimbal, diameter perhelai bisa mencapai satu sampai dua sentimeter. Itu berarti hubungan kita berjarak sedemikian rupa. Dan lagi, kusut tak terurus serta banyaknya kotoran dan hewan pengerat rambut.
“Praaaang!!”
Tangan kananku mengenai bingkai berwarna itu. Dan menakdirkanku menemui bangun atas tidur tengah malam ini.
- SEKIAN -
Jakarta, 12 November 2011 21:22
Kembali aku melanjutkan catatan yang belum usai kutulis tadi. Hujan yang menghambatku menatap awan suci, membuatku ingin berdendang di bawahnya. Barang kali berdendang di kala hujan adalah sebuah kenikmatan yang belum pernah kutemui, yang mungkin bisa membangkitkan hasratku untuk kembali menari bersama pena di atas kertas.
Tuhan memang Maha Benar. Tak salah Dia memberiku insting yang kuat. Ternyata berdendang di bawah hujan sungguh membuatku lebih tenang. Dinginnya yang menusuk tulang, membekukan ingatanku akan awan suci pagi tadi sebelum mendung menggila.
Beberapa anak kecil bertelanjang kaki menginjakinjak bumi dan memercikan air langit yang telah menggenang. Kegembiraan terlukis dari wajah mereka. Wajahwajah lugu yang belum terjamah dosa. Aku yakin, suatu saat nanti mereka akan terjerembab dalam kejamnya hidup yang fana ini. Tak kuasa menahan nafsu dan terlibat adu urat syaraf dengan sesamanya. Tapi aku tak menghendaki seperti itu, hanya Tuhan yang tahu.
Wajahwajah riang mereka tak bertahan lama. Teriakan Ibu mereka dari depan rumah meretakan tawacanda anakanaknya. Ada yang enggan kembali, ada pula yang lari menjauh dari sumber suara dan menantang langit untuk lebih deras membuang airnya. Aku yang sedari tadi hanya duduk di bangku halaman rumah, memandangi mereka dengan jeli. Raut wajah mereka berubahubah, setiap terdengar suara yang tak asing bagi mereka. Aku tertawa, dasar, anak kecil!
Selang satu jam, langit kehabisan airnya. Hujan pun reda. Gerimis tersisa, membasahi bumi. Daundaun dan bungabunga kembali tertawa. Lantas, terbitlah pelangi warna. Ini luar biasa! Mungkin, ini gambaran dari hatiku. Atau.. Entahlah. Aku tak ingin berlamalama menikmati pelangi. Karena bagiku, tak ada yang lebih indah untuk dinikmati kecuali awan suci dan senja jingga, serta berdendang di bawah hujan. Aku kembali ke rumah.
SENJA jingga mengintip dari balik jendela kamarku. Pelanpelan sinarnya memantul ke mataku lewat cermin yang ada di depan meja belajarku dan dari bingkai photo seorang gadis yang selalu kupajang. Dulu hanya ada satu photo yang kupajang, sekarang dia beranak, dua photo dengan dua bingkai. Suatu kali salah seorang sahabatku menegurku atas tindakan tak wajarku. Dia menanyakan sebuah kebijakan dan tanggungjawab, “Kenapa harus kau pasang dua photo yang berbeda karakter di meja belajarmu?” tanyanya. Aku jawab “Entahlah.” Karena memang aku juga tak tahu kenapa aku harus memajangnya.
Dalam hening maupun keramaian, kadang aku merasa aneh dengan sikapku. Entah kenapa, tak ada alasan yang kudapat setelah aku mencari hingga ke dalam otak dan hatiku yang mendasar. Otakku kosong, bodoh! Lantas aku pikir, tindakanku tak salah. Namun banyak suara yang menggelayutiku bahwa semua itu salah. Biarlah ini menjadi konflik panjang dalam narasiku.
Terus kupandangi dua bingkai yang ada di sebelah kiri komputerku, kuambil satu yang penuh warna merah jambu dengan tangan kiri. Indah. Kulemparkan tangan kananku meraih bingkai satunya – lekat dengan warna gelap. Cantik. Kutimangtimang kedua bingkai itu dengan tangan yang berbeda. Tak ada yang berat. Memang aku tak menimbang bebannya. Aku hanya bimbang dalam timangan. Lalu kuletakan kembali di meja.
“Haaah!”
Aku selalu menikmati rekaman gambar tak gerak. Baik di bingkai itu maupun di manapun. Meski objek gambar dalam dunia nyata ia sedang bersedih, tapi yang kulihat dalam rekaman gambar tak gerak itu, ia selalu senyum, manis sekali. Di kedua bingkai itu – sama saja – mereka selalu senyum. Senyum indah yang mereka tunjukan padaku – pasti hanya padaku – tulus dari hati mereka, tak ada kepalsuan atas pose mereka. Aku pun tak memaksa mereka untuk tersenyum. Atau memang mereka lihai menyembunyikan masalah dalam senyumnya? Aku rasa tidak, mereka selalu terbuka denganku. Bahkan masalah internal pun mereka kisahkan padaku.
“Relakan”, seru salah seorang sahabtku waktu lalu, sebelum aku membiarkan bingkai warna merah jambu berdiri sejajar dengan yang telah lama kupajang di mejaku. Ada juga yang meneriakiku, “Tak berwarna lebih bagus!” Aku diam. Retoris. Memang tak perlulah aku menanggapinya. Toh, ini bingkai memang sudah lama tak berisi photo, sejak kepergian Ayah, aku jadi enggan memasangnya lagi. Takut akan genangan air mata yang siap membanjiri kamar kecilku ini. Setelah itu, tiada lagi photo untuk bingkai itu. Sementara bingkai yang satunya, itu bingkai spesial yang memang kusediakan untuk pengganti kekasihku yang juga telah pergi lama – 3 tahun silam.
Tibatiba rintik air mata tak terelakan. Aku cengeng. Anjing! Sampah! Sampai saat ini hanya empat kosakata yang mampu kuhafal, itu pun tak mampu kurangkai dengan baik. Untuk seorang penulis amatir seperti diriku ini, kurasa memang tak patut aku menulis lagi. Apalah yang aku bisa? Tentang morfologi pun aku tak mengerti sama sekali. Apalagi stilistika yang mengharuskan pelanggaran kaidah bahasa atau apalah itu istilahnya. Yang kutahu, aku cengeng, anjing, dan sampah!
Sepertinya alam latah. Di saat pembagian waktu alam telah tiba pada pelangi – seharusnya – alam malah berteriak petir dan menurunkan hujan. Seantero kota gelap, terselimuti oleh mendung, membuat masyarakat enggan beristirahat di waktu istirahat. Dan memaksa aku untuk tidak menemui awan suci dan pelanginya. Baru beberapa menit yang lalu aku melepas pakaianku yang basah oleh hujan, kini aku ingin lagi merasakannya. Aku dibuatnya seolah rindu dengan tetesannya, dibuatnya aku merindu akan rinai air yang teduh. Entah ada apa hari ini? Tanggal 3 November? Ah, angka ganjil!
Kali ini aku tak ingin membasahi badanku untuk kali kedua dalam sehari ini dengan air langit. Aku butuh badan yang fit untuk berpesta dengan pena yang sudah sedari tadi fajar menarinari menggodaku di atas kertas, dan papan tik yang telah merengek menggelinjang minta kawin.
Akhirnya, kuputuskan untuk segera menjamah mereka satu per satu. Mereka terlalu berharga untuk kutinggalkan. Kertas, pena, dan papan tik adalah aku. Mereka adalah nafasku untuk bersosialisasi dengan semua orang. Tanpa mereka aku hanya sebuah patung lilin, yang mudah leleh oleh api sekecil apa. Sementara mulutku ditakdirkan Tuhan hanya untuk makan. Berbicara? Hanya sekadarnya bila memang perlu. Tak adil? Adil. Ini keputusan Tuhan. Aku selalu menikmatinya, hingga saatnya aku harus mengubah keputusan Tuhan. Aku lelap di atas kertas putih di bawah hujan.
“APA yang ingin kau katakan?”
“Ini cantik! Terimakasih, kau telah mengajakku ke mari!” jawabmu seperti tak percaya.
“Apa kau suka?”
“Tepat sekali! Sepertinya aku mampu merangkul bulan untuk malam kita berdua ini!” serumu seraya bertingkah seakan kau mampu meraih bulan lalu menariknya untuk duduk bertiga dengan kita.
“Hahaha.. Nikmatilah, karena tak selamanya bulan bisa kau rangkul seperti itu!”
“Ah, aku tak yakin dengan perkataanmu itu. Aku yakin bisa merangkul bulan dengan leluasa. Selama tak ada yang tersakiti, pasti bisa!”
“Maksudmu? Maaf, aku berbica tentang denotasi.”
“Maaf..” kau menghentikan lelaku ‘meraih bulan’mu.
Sesaat suara kita mengambang di cakrawala. Hanya nafas sengal yang terdengar. Itu pun samarsamar. Perbincangan kita hambar, terhenti oleh bintang yang memancing perhatian kita. Kau begitu menikmati alam malam ini. Sampaisampai aku mengulang pertanyaanku.
“Apa yang kau harap dari alam malam ini, khususnya bulan?”
“Entahlah, aku tak bisa berharap banyak kepada alam, apalagi bulan. Aku masih terlalu belia untuk mengharapkannya.”
“Apa yang kau maksud sebenarnya? Apa kita membicarakan hal yang terlampau masingmasing dari kita tak tahu?” tanyaku heran, yang sedari tadi sepertinya perbincangan kita tiada menemui titik.
“Yang aku tahu, bulan tidak hanya satu, tapi ada dua.” jawabmu sambil memutar badan ke kanan menghadap padaku.
“Apa maksudmu? Tuhan salah langkah?” kuraih tanganmu. Kau mempererat genggaman.
“Tidak! Bulan yang satunya adalah kamu, dan aku adalah bintang. Bolehkah aku menjadikanmu bulan?” pintamu dengan penuh harap dari tatapan matanya yang menusuk pupilku.
“A..a..aku.. aku bulan? Bagimu? Menjadi bulan untukmu? Tapi bulan butuh bantuan untuk bersinar, ia tak mampu bersinar dengan sendirinya. Tak mungkin bisa aku menjadi bulan, apalagi untukmu. Mustahil!” alihku melempar pandang ke langit.
“Aku bintang. Kau tak perlu khawatir!”
“Bukankah seorang pria tak boleh bergantung pada seorang wanita?”
“Untuk yang satu itu, bulan dan bintang adalah pengecualian.”
“Maksudmu?” aku tak mengerti.
“Ah! Lupakan! Aku terlalu sayang padamu!”
Aku terperanjat bukan main. Seolah aku jatuh dari gedung lantai delapan yang sudah kurencanakan – sebuah proses kematian segera menjemput – meski sebenarnya itu tidak terjadi, dan aku hanya bergerak mundur selangkah dari posisiku semula. Satu per satu keringat sebesar biji jagung mengalir dari ruang tubuhku. Aku tak mampu berkata bahkan untuk mengusap bulirbulir keringatku sendiri. Akan lebih buruk apabila aku memintamu untuk mengusap keringatku dan menjawab pertanyaanmu sendiri.
Lama aku bergelut dengan gugup dan gusar. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan di saatsaat seperti ini. Di tempat ini tak kulihat seorang pun, hanya ada kepalakepala tanpa dosa di bawah sana. Meminta tolong kepada mereka rasanya mustahil, mereka tak tahu apa. Sedang mereka tengah mencari nafkah untuk keluarganya di rumah. Lagipula mereka tak mengenal tata surya. Pelajaran geografi mereka pun tidak lulus UN.
Dengan sekuat tenaga aku mengusap keringatku, tampak perlahan memang, tapi itu aku sudah kuwalahan. Barangkali bisa kulap pakai kain lalu kuperas pada sebuah ember bisa jadi penuh dan bahkan sampai muntah. Begitu banyak kelenjar keringatku berproduksi di saat yang bersamaan dengan hati dan otak yang tengah berproses. Hanya bedanya, proses otak dan hati lebih lamban mengeluarkan produknya.
“Kau pernah berkata bahwa jangan sampai bunga itu berkembang, bukan? Apa katakatamu waktu itu hanya sebuah usaha untuk menyembunyikan sesuatu?” tanyaku gagap.
“Iya, aku pernah menyatakan hal itu. Bukankah ada sebuah bunga yang tak butuh pupuk dan air, namun ia tetap bisa berkembang? Ada beberapa faktor yang mampu membuatnya tumbuh!” ucapmu kian lirih dengan tatapan mata yang tak kunjung surut – masih seperti tadi.
“Ini berarti kita melanggar janji kita?”
“…”
Memang tak ada yang salah dengan perasaan ini, hanya badan ini yang terlalu rapuh mengendalikannya. Tak ada alasan yang lebih tepat kecuali badan ini yang melemah. Sementara usia kita telah berumur, tak semestinya kita tak bisa mengatasi badan yang rapuh, bukan begitu? Kita telah dewasa!
Seperti berada di Mount Everest, badanmu lunglai, jatuh di dadaku yang bidang karena dinginnya yang tak terelakan. Nafasmu yang dingin terasa jelas di leherku. Bau tubuhmu tak asing lagi. Baubauan ini berasal dari tubuhku yang mengenalkan kepadamu atas diriku. Satu waktu itu kau meminta baubauan itu sebagai pengganti diriku saat aku tak ada. Lalu aku memberikannya setengah botol.
Entah apa yang kurasakan saat itu, mendekap hangat badanmu yang mungil, serasa hidup di antara jutaan bintang. Kau erat melengkuh karena angin tak bersahabat, katamu kala itu. Kubelai rambutmu yang tipi situ penuh kasih, dan kau mainkan rambutku yang gimbal. Kataku, cerita ini tak lebih seperti rambutku yang gimbal, diameter perhelai bisa mencapai satu sampai dua sentimeter. Itu berarti hubungan kita berjarak sedemikian rupa. Dan lagi, kusut tak terurus serta banyaknya kotoran dan hewan pengerat rambut.
“Praaaang!!”
Tangan kananku mengenai bingkai berwarna itu. Dan menakdirkanku menemui bangun atas tidur tengah malam ini.
- SEKIAN -
Jakarta, 12 November 2011 21:22

Komentar
Posting Komentar